Sementara Andi (85) seorang kake dengan tekun merapikan tambang dengan cara menggunting sambungan daun pandan yang nempak tidak rapi. Meski telinganya sudah kurang pendengaran tapi matanya masih tetap tajam.
Menurut keterangan Rumsih, Wina, Atni dan Kartini, aktifitas tersebut sudah mereka lakukan sejak puluhan tahun lalu. Rumsi dan Kartini misalnya sudah sekitar 20 tahun menekuni pekerjaan tersebut. Itu dilakukan sejak turun temurun tepatnya sejak ada pengusaha yang memesan pembuatan tambang.
Karena mereka bekerja atas pesanan dari bandar tambang asal Tasikmalaya. Dua hari sekali mereka dikirim bahan baku daun pandan yang sudah di belah kecil. Sehingga ketika barang datang para pekarja tinggal menggulung menjadi tambang. Hanya mesin pembuat tambang harus dibeli sendiri seharga Rp 25.000.
Setelah tambang jadi dibuat mereka menyetornya kembali kepada bandar yang berasal dari desa setempat.















































































































Discussion about this post