KUNINGAN, (FC).- Langkah sigap dilakukan Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan dalam menanggani wabah Covid-19 atau virus Corona. Salah satunya dengan dikebutnya pembangunan Rumah Sakit Darurat Corona yang menggunakan fasilitas eks. Rumah Sakit Citra Ibu di Ciharendong, Kuningan.
Lahan dan bangunan eks Rumah Sakit Citra Ibu yang sudah terbengkalai sekitar 9 tahun lamanya tersebut, diputuskan untuk dibeli oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan senilai sekitar Rp7,5 Miliar.
Hal tersebut dibenarkan oleh Bupati Kuningan H. Acep Purnama didampingi Kepala BPKAD Kuningan H. Asep Taufik Rohman saat meninjau perbaikan atau rehabilitasi bangunan tersebut, Rabu (25/3).
“Ini sedang dipersiapkan dalam rangka antisipasi penanganan wabah covid-19. Dan lahan dan bangunan ini kita beli,” ujar Acep.
Karena lahan dan bangunan bekas rumah sakit, lanjut Acep, lebih mudah melakukan perbaikan dan kelengkapan yang diadakan. Misalnya ruang perawatan yang ada sudah lengkap. Ada fasilitas IPAL dan lainnya.
“Untuk standar isolasi, akan dilengkapi dengan negative pressure. Dan kita (Pemda) sudah memesan sebanyak 4 unit alat. Nanti akan diletakan di RSUD 45, RSU Linggarjati dan nanti disini berapa. Kalau kurang kita pesan lagi,” jelas Acep.
Ditambahkan Kepala BPKAD Kuningan H. Asep Taufik Rohman bahwa pembelian lahan dan bangunan eks. Rumah Sakit Citra Ibu sudah sesuai dengan prosedur. Sebelum membeli pihaknya sudah berkoordinasi dengan Kemendagri dan lainnya, termasuk dengan Apresal.
“Sudah sesuai, kita sudah pakai Apresal ada dua sertifikat totalnya sekitar 2.300 meter persegi dengan luas bangunan sekitar 2.000 meter persegi dengan ketinggian empat lantai. Dan satu sertifikat sekitar 700 meter persegi. Jadi total sekitar 3.000 meter persegi,” jelas Taufik.
Langkah ini menurut Taufik sangat tepat sekali, mengingat uang negara yang dikeluarkan tetap menjadi asset pemerintah daerah kedepannya, ketimbang menyediakan lahan, atau pinjam lahan dengan mempersiapkan segala sesuatunya yang menghabiskan anggaran tanpa bisa menjadi asset kedepannya.
“Sekarang kalau aula atau gedung manapun, untuk tempat darurat seperti diluar sana, anggaran yang diserap tidak bisa jadi asset kan kedepannya. Rp3-4 Miliar bisa habis untuk persiapan itu saja. Kalau ini kita beli kita siapkan dan kedepan bisa jadi asset,” jelas Taufik.
Sementara itu, Tim Pemkab bukan hanya sedang mempersiapkan kondisi bangunan dan lainnya, termasuk kelekapan fasilitas medis. Hingga saat ini belum bisa dipastikan dari 28 ruang perawatan yang sudah tersedia di lokasi itu, akan berapa ruang yang digunakan untuk ruang standar isolasi dari WHO tersebut.
Masyarakat sekitar yang merasa resah mendapat kabar pemanfaatan Eks Rumah Sakit Citra Ibu tersebut mengaku membutuhkan sosialisasi yang jelas dari pihak Pemkab. Seperti disampaikan Edi Kusmayadi, warga perumahan Taman Ciharendong Kencana, pihaknya membutuhkan sosialiasi langsung dari pengambil kebijakan terhadap warganya.
“Tadi kami sarankan ke bupati, kami butuh sosialisasi jelas. Agar kami bisa tegar dengan pemanfaatan rumah sakit itu, jangan sampai Wuhan yang jaraknya 4.000 kilometer masuk ke Indonesia, kita disini Cuma beberapa ratus meter dari rumah sakit ini justru resah,” kata Edi.
Meski baru mendapat penjelasan dari Bupati sekilas, pihaknya bisa menerima dengan tegar. Karena pelayanan atau tindakan yang diberlakukan di rumah sakit tersebut sudah ada Standar Operasional Prosedur (SOP).
“Sekilas sih kita tenang mendengar penjelasan dari pak Bupati tadi. Tinggal menyosialisasikan ke warga saja,” kata Edi. (Ali)










































































































Discussion about this post