KOTA CIREBON, (FC).- Hampir semua sektor terkena dampak dari Covid-19. Tak terkecuali sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Mereka seperti kehilangan semangat berjuang menghadapi kesulitan dalam usahanya.
Seperti yang dialami Riyan Arif (35), pedagang camilan di seputaran Jalan Perjuangan ini mengaku sudah putus asa dengan kondisi dagangannya. Dari pagi hingga sore hari, dia hanya membawa pulang omzet kotor senilai Rp50 ribu saja.
“Iya mas, dulu sebelum ramai-ramai Covid-19 ini, kampus dan sekolah masih buka, siswa dan mahasiswa banyak jajan disini. Tidak kurang Rp250 ribu sehari bisa saya dapatkan. Sekarang untuk nyari Rp50 ribu saja saya harus berdagang sampai magrib,” jelasnya kepada FC, Rabu (22/4).
Bila sampai akhir bulan ini kondisi tetap sama, maka dirinya terpaksa akan menutup usahanya. Kalaupun buka hasil yang didapat tidak bisa untuk menutupi modal yang dikeluarkan. Apalagi untuk menafkahi anak istrinya di rumah.
“Mungkin akan bekerja ditempat lain, tapi situasi seperti ini saya tidak yakin bisa mendapatkan pekerjaan,” ucapnya lirih.
Dirinya bukan tidak berusaha, pernah mencoba untuk mendaftar program pra kerja, tapi beberapa kali tidak bisa masuk untuk mengaksesnya. “Mau gimana lagi, saya minta perhatian dari pemerintah agar memberikan bantuan kepada saya dan teman-teman yang senasib,” imbuhnya.
Sementara Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan usaha Kecil Menengah ( DPKUKM) Kota Cirebon, drh. Hj. Maharani Dewi menyampaikan, pihaknya sedang mendata UMKM,IKM dan PKL yang terdampak ekonominya karena Covid-19. “Tentunya setelah didata, kita akan ajukan untuk mendapatkan bantuan Jaring Pengaman Ekonomi. Berupa bantuan modal usaha, mengenai besaran dan jumlah sasaran masih dalam proses pembahasan,” katanya. (gus)












































































































Discussion about this post