KAB. CIREBON (FC).- Sejumlah masyarakat Desa Luwungkencana, Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon menggelar tradisi “Mapag Sri”. Mereka mempersembahkan berbagai macam hiburan budaya seperti pertunjukan wayang kulit dan sandiwara tua, muda, remaja, hingga anak-anak tumpah ruah berbahagia memenuhi halaman kantor desa.
Mapag Sri merupakan ungkapan syukur atas hasil panen kali ini yang berlimpah ruah.
Dengan pakaian adat, sejumlah perangkat Desa Luwungkencana dan para kuwu Se-Kecamatan Susukan khidmat menyaksikan pagelaran wayang kulit dari Langgeng Penggalih, Senin (26/5) malam.
Kuwu Desa Luwung Kencana, Mustofa menyampaikan, Desa Luwungkencana melaksanakan kegiatan adat tradisi Mapag Sri terlaksana berkat dukungan dari masyarakat.
Kegiatan ini bukan sebagai eforia tetapi bentuk pengabdian bagi para leluhur yang telah menyukseskan desanya dan meninggalkan tanah yang subur untuk pertanian.
“Ujung baratnya Kabupaten Cirebon itu Desa Luwungkencana, saya berharap Pemkab Cirebon selalu memberikan dukungan yang terbaik untuk desa kami, desa kami memiliki lahan pertanian yang subur,” kata Mustofa.
Mustofa menyebut bahwa Desa Luwungkencana memiliki lahan pertanian yang cukup luas yaitu karena berada di wilayah perbatasan Indramayu dan Majalengka.
“Luas lahan pertanian mencapai 512 hektare, itu di antaranya karena Desa Luwungkencana berada di perbatasan dua wilayah kabupaten berbeda harus menjadi simbol kesejahteraan dan kesuburan semoga kedepan menjadi lebih baik lagi dan mendapatkan dukungan infrastruktur jalan yang memadai,” ujarnya.
Mapag Sri merupakan tradisi turun temurun yang digelar tiap tahun di Desa Luwungkencana. Hebatnya, acara ini tak hanya diikuti para petani, melainkan seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
“Acara Mapag Sri digelar di tiga dusun yang berbeda, di antaranya ada di Dusun Induk, Dusun Gebangsari dan Dusun Kertawinangun menampilkan hiburan budaya wayang kulit dan sandiwara,” ungkapnya
Sementara itu, Anggota DPRD Kabupaten Cirebon, Abdul Kodir yang juga putra daerah asal Desa Luwungkencana mengatakan, pihaknya mengapresiasi penuh dengan terlaksananya kegiatan adat Mapag Sri.
“Mapag Sri adat budaya dari leluhur yang masih melekat di setiap desa sampai hari ini, diadakan Mapag Sri di adat kami selalu ada ketika menjelang musim panen, sangat luar biasa memang tidak lepas dari budaya ke Cirebonan dan terus meregenerasi, dengan harapan para petani agar mendapatkan hasil panen yang melimpah,” ungkapnya.
Tradisi Mapag Sri, lanjut Kodir merupakan ungkapan syukur masyarakat agraris setempat dengan hasil panen padi yang melimpah, semoga desa poros ini atau desa perbatasan ini harap di lebih perhatikan lagi terutama infrastruktur dan fasilitas pendidikan serta kesehatan.
āAcara Mapag Sri itu ungkapan syukur petani dan masyarakat Desa Luwungkencana terhadap masa panen kali ini tradisi yang sudah berlangsung selama puluhan hingga ratusan tahun diikuti seluruh kalangan, pelaksanaan panen raya pada tahun ini memberikan hasil yang melimpah untuk meningkatkan kesejahteraan para petani,” pungkasnya. (Johan)











































































































Discussion about this post