KOTA CIREBON, (FC). – Selama masa pandemi Covid-19, dunia pendidikan melakukan pengajaran secara daring atau online. Hal ini bertujuan untuk menekan angka penyebaran Covid-19 yang terjadi.
Proses belajar mengajarpun masih dapat dilakukan secara online, namun tidak demikian dengan mengaji, dalam prakteknya kegiatan belajar mengaji pada madrasah Diniyah sangat sulit dilakukan secara online atau sistem daring.
Selain itu, kesejahteraan guru ngaji sendiri perlu dipikirkan oleh Pemerintah Daerah Kota Cirebon. Hal ini dikarenakan tidak adanya perhatian lebih dari pemerintah daerah Kota Cirebon.
Demi untuk meningkatkan kesejahteraan guru ngaji di daerahnya Kelurahan Kesenden melalui Lurahnya Ruliyanto mengatakan akan membentuk forum pelaku usaha ekonomi di kelurahan Kesenden.
“Di dalam forum usaha ekonomi tersebut nantinya hal yang tidak tercover oleh anggaran pemerintah, kita coba mengetuk para pelaku usaha setidaknya menjadi orang tua asuh dari beberapa guru ngaji,” kata Ruliyanto kepada FC, Kamis (14/1).
Nantinya pihak kelurahan kesenden sendiri akan mendorong para pelaku usaha untuk meningkatkan honor guru ngaji nantinya.
Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kecamatan Kejaksan Wahyu Nurohim mengatakan di kelurahan Kesenden sendiri paling banyak madrasah diniyahnya, dan juga jika ditinjau dari perhatian pemerintah daerah belum memadai.
“Meskipun kita tahu bahwa kesejahteraan guru ngaji ada peraturan daerah dan juga perwalnya, tapi itu belum menyentuh daripada guru madrasah diniyah. Hal ini dikarenakan perda tersebut berkolaborasi Diniyah dan juga dinas pendidikan,” kata Wahyu Nurohim.
Terlebih lagi pada masa pandemi saat ini, yang seharusnya tidak ada pertemuan tatap muka sesuai dengan anjuran dari Kementerian Agama, akan tetapi hal tersebut sangat sulit dilakukan.
“Seharusnya kita tidak boleh belajar tatap muka, namun itu menjadi catatan tersendiri untuk kami, akan tetapi itu sangat sulit, dan kita berupaya mengatur jadwal saja,” ungkapnya.
Selama satu minggu kegiatan mengaji tetap dilaksanakan tatap muka, namun hanya selama 3 hari saja dan itu juga dibatasi anak muridnya.
“Kapasitas tentu menyesuaikan dengan kapasitas ruangan yang kita miliki, kalau menurut saya untuk belajar mengaji tidak bisa dilakukan secara daring, itu tidak efektif,” tuturnya.
Untuk honor sendiri, guru mengaji diniyah dikenal dengan istilah Sabar, Jujur dan Tabah (SAJUTA), jadi honornya itu ya tidak mencukupi.
“Honor guru ngaji SAJUTA, di lembaga saya sendiri memberi honor 250 ribu per guru ngaji itu juga perbulan, jadi ya mau bagaimana lagi kita tidak diperhatikan,” katanya.
Namun dirinya tak hanya tinggal diam, dirinya sudah menyampaikan kepada anggota komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) fraksi partai Gerindra Fitrah Malik agar dapat menyentuh para guru ngaji.
“Kita tadi dalam musbangkel sudah sampaikan kepada Fitrah Malik untuk menyentuh kami sebagai guru ngaji untuk lebih diperhatikan lagi,” katanya.
Dirinya berharap kepada pemerintah untuk segera memperhatikan dan memberi stimulus semangat bagi guru mengaji sendiri.
“Harapannya jangka pendek ya kita lebih diperhatikan lagi oleh pemerintah. Selain itu juga pemerintah harus memberi stimulus kepada kami, agar kami lebih semangat lagi mengajarkan anak-anak untuk mengaji,” tandasnya. (Sakti)











































































































Discussion about this post