KAB. CIREBON, (FC).- Melonjaknya harga kedelai impor membuat pengrajin tempe di Kabupaten Cirebon menurunkan kapasitas produksinya.
Hal ini seperti yang dilakukan Ubaedilah, pengrajin tempe di Blok Nyapa Desa Tegalsari Kecamatan Plered Kabupaten Cirebon. Penurunan produksi terpaksa dilakukan untuk menjaga keberlangsungan usaha.
“Dalam kondisi normal biasanya per hari produksi 1,2 kwintal. Tapi sekarang hanya 1 kwintal. Tidak berani banyak-banyak,” ungkap Ubaedilah saat ditemui FC di tempat usahanya, Senin (4/1).
Menurutnya, kenaikan harga kacang kedelai impor sudah berlangsung sejak bulan Desember 2020. Kenaikan harga kedelai selalu terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
Tapi, kata dia, kenaikan harga kali ini adalah yang paling tertinggi, yakni mencapai Rp9.700/kg dari sebelumnya hanya Rp8.500/kg.
“Biasanya kalau sudah diangka Rp9 ribu turun lagi. Tapi kalau sekarang malah makin naik. Kalau sudah nyampe Rp10 ribu saya sudah pasrah, sudah gak mau produksi bikin tempe lagi kalau sudah Rp10 ribu,” ungkapnya.
Dengan kenaikan harga bahan baku ini, ia pun terpaksa menaikan harga jual. Jika pun harganya tetap, maka potongan ukuran tempe yang dijualnya dikurangi atau diperkecil.
Ia berusaha untuk bisa menyiasatinya di tengah kenaikan harga bahan baku ini.
“Untuk harga jual, kita menyesuaikan. Kadang-kadang potongan tempenya dikecilin, harganya tetap. Tapi kalau ukurannya tetap, berarti harga jualnya yang dinaikan,” jelasnya
Ubaedilah sendiri mengaku tak tahu persis faktor kenaikan harga kacang kedelai impor tersebut. Namun, informasi yang dia dengar karena pengaruh dollar.
Diakuinya bahan baku produksi tempe selama ini mengandalkan kacang kedelai impor ketimbang kacang kedelai lokal.
“Kalau kedelai impor besar kacangnya, melar. Tapi kalau lokal melarnya sedikit. Tapi ada juga yang menggunakan kedelai lokal,” katanya.
Dulu, lanjutnya, sewaktu ada KOPTI (Koperasi Tempe dan Tahu Indonesia), bisa menyatukan harga di pasaran dan menjaga ketersediaan bahan baku.
“KOPTI tadinya sih ada. Tapi sekarang sudah tidak ada. Kalau sekarang pengrajin masing-masing beli sendiri, tidak ke KOPTI lagi,” tambahnya. (Andriyana)















































































































Discussion about this post