KUNINGAN, (FC).- Ledakan kasus Covid-19 kluster Pondok Pesantren Husnul Khotimah (HK) diduga karena tidak terbukanya dan tidak jalannya koordinasi dengan pihak berwenang dalam hal ini tim gugus tugas Covid-19 setempat.
Seorang Alumni HK yang enggan disebutkan namanya mengaku bahwa di kasus Covid-19 terjadi sejak awal penerimaan santri baru. Namun karena melakukan pengetatan sendiri beberapa gelombang santri yang suspek Covid-19 masih aman.
“Katanya sih gelombang ketiga itu kecolongan. Anak yang positif diisolasi mandiri tidak mau diam, membaur dengan yang sehat, sehingga ketika yang positif sudah negatif, giliran yang lain bergejala batuk pilek. Dan kabarnya yang positif gelombang ketiga itu ada anak pejabat di pemerintah pusat,” jelasnya, Jumat (25/9).
Sementara itu, beredar pesan berantai dari Ketua Yayasan Husnul Khotimah Kuningan, KH. Mu’tamad. Yang menyampaikan beberapa hal kaitan upaya penanganan pandemi Covid-19 di Pondok Pesantren tersebut.
Dalam pesan itu tertulis, “sebelum kedatangan santri kami melakukan persiapan sesuai persyaratan protokol kesehatan berkaitan dengan pandemi. Saat kedatangan santri gelombang ke-1 (tanggal 1-2 Agustus 2020) kami mensyaratkan Rapid Test.
Hasilnya dari 702 santri yang datang, 700 santri non-reaktif dan 2 santri reaktif, santri tersebut dipulangkan dan dilakukan tes SWAB di rumah masing-masing.










































































































Discussion about this post