MAJALENGKA, (FC).— Kenaikan harga bahan kemasan plastik dan harga impor kacang kedelai memberikan tekanan berat bagi pengrajin tempe yang selama ini beroperasi di Desa Cisambeng, Kecamatan Palasah, Kabupaten Majalengka.
Lonjakan harga yang terjadi secara bersamaan membuat pelaku usaha kecil harus mencari cara bertahan, salah satunya dengan mengganti kemasan plastik kembali menggunakan daun pisang untuk pembungkus pembikinan tempenya.
Langkah tersebut dinilai menjadi solusi strategis untuk menekan biaya produksi sekaligus menjaga harga jual tetap terjangkau, sehingga konsumen pun tidak dibebani dengan kenaikan harga jual.
Salah satu pengrajin tempe di Desa Cisambeng Kecamatan Palasah, Nurita mengatakan kenaikan harga bahan baku seperti kacang kedelai sangat terasa dalam beberapa waktu terakhir.
“Harga kacang kedelai impor sebelumnya Rp9.500 per kilogram, sekarang naik menjadi Rp11.500 per kilogram. Ditambah lagi harga plastik juga ikut naik,” ujar Nurita, Rabu (8/4).
Kondisi ini membuat produksi tempe yang selama ini digeluti menurun drastis. Jika sebelumnya ia mampu mengolah hingga enam kuintal kedelai dalam satu kali produksi, kini hanya sekitar satu atau dua kwintal saja.
Tidak hanya itu, dampak kenaikan harga juga memengaruhi tenaga kerja. Dari sebelumnya memiliki sepuluh karyawan, kini produksi hanya melibatkan empat karyawan saja. Itupun dengan honor juga diturunkan, dari yang semula Rp 120.000, sekarang di bayar Rp 110.000 per harinya.
Meski menghadapi kenaikan harga beli bahan baku, Nurita memilih tidak menaikkan harga jual tempe demi menjaga daya beli masyarakat. Namun, keputusan itu berdampak pada penurunan omzet yang signifikan.
“Omzet saat ini turun sampai 60 persen,” katanya.
Para pengrajin tempe berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga bahan baku, agar usaha kecil seperti mereka tetap bisa bertahan di tengah tekanan biaya produksi. Kalau harga kedelai terus meroket bisa bisa pengrajin tempe menutup usahanya.
“Ya kalau situasi ini tidak terkendali, khawatir pengrajin tahu tempe akan menutup usahanya. Karena prospek usahanya sudah tidak lagi menguntungkan,” pungkasnya.
Terpisah, seorang pelanggan yang rutin setiap hari belanja tahu tempe sudah mengetahui bahwa bahan baku seperti kacang kedelai impor naik juga harga plastiknya. Jadi andai nantinya ada kenaikan harga jual tahu tempe dirinya selaku konsumen memakluminya.
“Sampai hari ini belum ada kenaikan harga jual, cuman ukuran tempenya sedikit aga berkurang. Tapi kalau nantinya ada kenaikan ya tidak ada masalah. Yang penting masih ada uang belanja untuk membeli tahu tempe nya,” ujar Iis, pelanggan tahu tempe asal Kecamatan Jatiwangi. (Munadi)











































































































Discussion about this post