KAB.CIREBON, (FC).- Walau pendapatan koperasi menurun hanya sekitar 93 persen, namun koperasi Tunas Kencana masih mampu memberikan uang duduk dan transport sebesar satu juta rupiah kepada setiap anggotanya.
Hal tersebut diungkapkan Ketua Koperasi Konsumen Pegawai Negeri (KKPN) Tunas Kencana, Husein Fauzan dalam penyampaian gambaran umum pada Rapat Anggota Tahunan (RAT) di Pendopo Rumah Makan kawasan Talun Kabupaten Cirebon, Rabu (14/1).
Dikatakan Fauzan, RAT ini merupakan bentuk akuntabilitas pengurus dan pengawas yang diisi dengan laporan pertanggungjawaban pengurus dan pengawas tahun buku 2025 dan membahas serta menetapkan rencana kerja, rencana anggaran, pendapatan dan pembiayaan (RAPP) tahun buku 2026.
RAT dihadiri Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil (Diskuk) Provinsi Jawa Barat yang diwakili Kabid Kelembagaan dan Pengawasan Daniar Ahmad Nurdianto, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Cirebon, Alex Suheriyawan beserta jajaran, Ketua Dekopinda Kabupaten Cirebon yang diwakili Wakil Ketua, Ma’mun Effendi, Kepala Dinas PPKBP3A selaku penasehat KKPN Tunas Kencana, Indra Fitriani, seluruh anggota, segenap pengurus dan pengawas.
RAT tahun ini dimeriahkan dengan stand gelar produk UKM sebagai binaan KPRI Tunas Kencana, dan kerja sama pemasaran kendaraan roda empat (mobil) sebagai salah satu bentuk pelayanan pemenuhan kebutuhan kepada anggota. ”Kami bermitra dengan dealer roda dua dan roda empat untuk memenuhi kebutuhan kendaraan bagi anggota,” papar Fauzan.
Lebih lanjut dalam penyampaian gambaran umum, Fauzan menjelaskan, bahwa anggota KPRI Tunas Kencana setiap tahun mengalami penurunan, kini berjumlah 78 orang, terdiri dari 18 anggota PNS/ASN Dinas PPKBP3A dan Penyuluh KB, 60 orang anggota dinas lain, purna karya, dan non PNS/ASN.
“Penurunan jumlah anggota setiap tahun itu berdampak pada menurunnya kekayaan koperasi, namun alhamdulillaah koperasi masih dapat bertahan hidup dan tetap eksis,” ungkap Fauzan.
Dijelaskan Fauzan, bahwa KPRI Tunas Kencana memiliki unit usaha simpan pinjam, warung serba ada (waserda) dan PPOB seperti pembayaran rekening listrik/ pelayanan isi ulang listrik (token), telepon, cicilan kredit roda dua dan empat, isi ulang pulsa pra bayar dan pasca bayar, tiket kereta api, TV kabel (TV berbayar), pajak kendaraan dan PBB, PDAM, transfer uang, dan lain-lain, sebagai salah satu ciri koperasi modern, disamping kredit roda dua (motor) dan roda empat (mobil), serta foto copy/cetak dan penjilidan.
Unit simpan pinjam dapat melayani kredit anggota sampai Rp100.000.000 dengan jangka waktu 60 bulan, dengan jasa satu persen menurun. “Ini sungguh luar biasa, karena di Kabupaten Cirebon, Koperasi Pegawai Negeri yang pinjamannya sebesar itu dengan jasa yang sangat ringan, bisa dihitung dengan jari. Bahkan mungkin tidak ada,” kata Fauzan optimis.
Kewajiban bulanan anggota, lanjut Fauzan, adalah simpanan wajib Rp300.000 per-bulan serta dana sosial Rp35.000, disamping membayar cicilan kredit bagi yang punya pinjaman, baik uang maupun barang. Sedangkan khusus bagi anggota baru diwajibkan membayar uang penyetaraan sebesar Rp4.000.000 yang menjadi milik institusi koperasi.
Masih dikatakan Fauzan, yang mungkin tidak ditemukan (cukup langka) pada RAT koperasi lain, tapi ada pada koperasi Tunas Kencana adalah setiap anggota, disamping mendapatkan sisa hasil usaha (SHU), pengurus juga memberikan uang duduk sebesar Rp800.000 plus transport Rp200.000, jadi total Rp 1.000.000 per anggota, diluar sisa hasil usaha (SHU).
“Ini bentuk kekeluargaan dan kebersamaan dalam koperasi, dan saya yakin di Kabupaten Cirebon bahkan di Jawa Barat atau Indonesia belum ada koperasi pegawai dalam RAT yang memberikan uang duduk dan transport sebesar itu bagi para anggotanya,” beber Fauzan semangat.
Disamping itu, tambah Fauzan, pengurus juga menyediakan doorprize lebih dari Rp28 juta yang diberikan dalam bentuk uang dan barang. Doorprize tertinggi dalam bentuk uang sebesar Rp 3 juta dan terendah Rp500.000 sementara dalam bentuk paket barang/ sembako adalah masing-masing Rp250.000.
Tahun ini anggaran beasiswa terserap Rp3.500.000 diperuntukkan bagi putra putri anggota KPRI Tunas Kencana yang berprestasi (rangking 1 sampai 5) di kelasnya. Program lainnya, lanjut Fauzan, selain tabungan haji untuk mendapatkan waiting list (daftar tunggu) bagi calon Haji, juga memberikan fasilitas pinjaman perjalanan Umroh.
“Masih banyak lagi program lainnya seperti pemberian santunan bagi anggota yang sakit dan meninggal dunia, mengikuti pendidikan dan pelatihan perkoperasian bagi anggota dan pengurus, pemberian kadeudeuh bagi yang purna karya,” imbuh Fauzan.
Jumlah kekayaan KPRI Tunas Kencana sekitar Rp3,1 miliar. Dari jumlah itu modal sendiri yang terdiri dari simpanan pokok, simpanan wajib, cadangan, pemupukan modal, modal equitas, SHU tahun berjalan berjumlah sekitar Rp 3 milyar.
“Dari kekayaan dengan berbagai jenis usaha yang dikelola, pendapatan tahun ini hanya mencapai 93 persen. Dan SHU tahun ini hanya mencapai 24,5 juta dari target 38 juta atau hanya 65 persen saja,” ungkap Fauzan mengakhiri paparannya.
Dalam arahannya, Kepala DPPKBP3A, Indra Fitriani mengatakan, bahwa RAT bagi sebuah koperasi merupakan hal yang mutlak harus dilaksanakan, karena RAT merupakan sendi utama dalam menggerakkan koperasi. Selain itu, RAT juga sebagai forum pengambilan keputusan tertinggi dalam koperasi, yang menyatakan bahwa kekuatan utama organisasi koperasi adalah pada anggota.
Dikatakan Fitri bahwa arus globalisasi sudah tidak terbendung lagi. Perkembangan teknologi yang semakin canggih, dunia kini tengah berada pada era revolusi industri 4.0, menjelang era 5.0, yang antara lain menekankan pada pola digital economy. Oleh karena itu, untuk menyesuaikan dengan teknologi yang semakin canggih memasuki era revolusi industry hendaknya koperasi mempertimbangkan untuk menciptakan perubahan yang besar pada bisnis koperasi.
“Digitalisasi koperasi antara lain dengan penggunaan aplikasi pencatatan keuangan dan bisnis yang efektif dan teruji,” ungkap Fitri.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Cirebon, Alex Suheriyawan mengatakan, bahwa merujuk pada Online Data System (ODS) Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia (Kemenkop UKM), di Kabupaten Cirebon, koperasi yang mengisi ODS Kemenkop masih rendah yakni hanya 50 koperasi dari 762 koperasi atau sekitar 7% saja.
Oleh karena itu, Alex mengharapkan, koperasi di Kabupaten Cirebon, dihimbau untuk segera mengentry data ODS, sehingga koperasi tersebut terdata dan terlaporkan kelembagaannya pada kementrerian.
“Sistem ini adalah platform digital terintegrasi secara nasional yang digunakan untuk pendataan dan pelaporan data kelembagaan serta usaha koperasi,” jelas Alex.
Sementara itu Ketua Dekopinda Kabupaten Cirebon yang diwakili Makmun Effendi dalam sambutannya mengungkapkan, bahwa Koperasi Tunas Kencana sebagai koperasi yang telah berupaya keras untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya.
“Saya salut kepada Ketua Koperasi Tunas Kencana. Luar biasa, saya acungkan dua jempol kepada Husein Fauzan yang telah memberikan beberapa fasilitas untuk kesejahteraan anggotanya, ada uang duduk, ada transport, ada doorprize, ada bingkisan, yang jumlahnya sangat cukup bila dibandingkan dengan koperasi-koperasi lain yang ada di Kabupaten Cirebon,” kata Ma’mun. (red/FC)











































































































Discussion about this post