KAB. CIREBON, (FC).- Kesadaran akan lingkungan mulai ditumbuhkan di kalangan pelaku industri batu alam di Kecamatan Dukupuntang Kabupaten Cirebon. Melalui Paguyuban Pengerajin Batu Alam Cirebon (PPBAC), para pelaku usaha berinisiatif membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal secara swadaya.
Rupanya, kesadaran mereka tak lepas kebijakan pemerintah atas penutupan akvitas tambang di Kabupaten Cirebon dan Majalengka.
Ketua Paguyuban Pengrajin Batu Alam Cirebon saat ditemui di lokasi, Maman Kardiman mengatakan, pihaknya tengah merancang pembangunan 34 titik IPAL Komunal.
Setiap titik akan memiliki tiga hingga empat kolam dengan kedalaman mencapai 4 meter, dan luas area 10 x 15 meter dengan harapan agar pemerintah memberikan perhatian serius terhadap keberlangsungan industri batu alam, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat lokal.
Sebab, ribuan pekerja selama ini menggantungkan hidupnya di industri batu alam.
“Beberapa pabrik sudah membangun IPAL. Harapan kami, yang belum segera menyusul. Ini demi keberlangsungan usaha dan lingkungan,” ujar Maman, Rabu (18/5).
Ia juga berharap pemerintah daerah bisa mempermudah proses perizinan tambang rakyat. Sebab, yang memiliki tambang rakyat itu lahan perorangan, maka izinnya agar dapat dipermudah. Pun dalam proses penambangan dengan baik dan benar.
“Minimal tambang rakyat yang bukan tanah perhutani bisa dibuka lagi. Permudah perizinannya, tanpa mengabaikan cara penambangan yang baik,” paparnya
Sementara itu, pelaku usaha industri batu alam, Yudi menyampaikan, saat ini para pengrajin batu alam tengah mengupayakan pembangunan IPAL. Namun keterbatasan dana menjadi kendala utama.
“Kami ingin pemerintah daerah hadir membantu pendanaan. Karena banyak pelaku usaha kecil kesulitan membangun IPAL mandiri, nanti setiap titik IPAL Komunal akan digunakan oleh sekitar 12 pelaku usaha. Para pengrajin pun telah menjalin kerja sama dengan PT Indocement terkait pengelolaan endapan lumpurnya,”katanya
“Kami berharap ada forum bersama dengan pemerintah untuk menyatukan langkah. Tanpa mematikan usaha kami. Maka, jangan ambil keputusan sepihak. Rangkul kami, baik pabrik besar maupun kecil. Bimbing kami agar usaha ini tetap hidup dan tidak merusak lingkungan,” tuturnya.
Air Sungai Masih Berwarna Keabuan
Sementara itu, disisi lain dengan tidak beroperasinya industri pasca longsor Gunung Kuda masih belum berdampak signifikan terhadap para petani yang aliran irigasinya tercermari limbah batu alam.
Berdasarkan pantuan di lokasi disejumlah titik sungai yang menjadi aliran utama limbah batu alam masih terlihat seperti biasanya belum ada perubahan, air yang mengaliri persawahan masih terlihat keabuan yang artinya bahwa air irigasi itu masih terkontaminasi limbah.
“Ya mungkin belum semuanya tutup, buktinya masih ada sisa aliran air sungai yang berwarna keabuan, itu kan limbah batu alam” ujar Casmadi petani asal Desa Cikeduk.
Casmadi pun tidak menampik, bahwa aliran sungai yang tercermari limbah sangat berdampak terhadap pertumbuhan padi, meski demikian sektor pertanian hasil panen maupun lainya tetap stabil.
“Kadang turun turun sedikit itu wajar lah, karena kan faktor penurunan hasil panen tidak hanya dari limbah,tapi hama dan cuaca turut juga turut mempengaruhi,” pungkasnya. (Johan)














































































































Discussion about this post