KAB. CIREBON, (FC).- Desa Ambulu, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon yang sebelumnya terdampak negatif oleh air rob, kini menjadi contoh keberhasilan bagi pembudidaya rumput laut.
Air rob yang sebelumnya dianggap sebagai bencana, ternyata dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk mengembangkan budidaya rumput laut.
Pembudidayaan rumput laut di Desa Ambulu kini menikmati omset yang fantastis dari penjualan rumput laut kering.
Dengan harga jual Rp5.000 per kilogram, pembudidaya dapat meraup keuntungan yang signifikan.
Bahkan, dengan sistem panen setiap dua bulan sekali, pembudidaya dapat panen hingga 6 kali dalam setahun.
Salah seorang pembudidaya rumput laut Diani, yang juga Kepala Seksi Pemerintahan (Kasipem) Desa Ambulu, kepada FC, Senin (19/5) mengungkapkan, bahwa peralihan dari tambak ikan bandeng ke budidaya rumput laut juga terjadi secara masif di Desa Ambulu.
“Dari total lahan kurang lebih 700-800 hektare yang awalnya digunakan untuk tambak ikan, sekarang 90 persen di antaranya kini beralih ke budidaya rumput laut,” ungkapnya.
Keberhasilan pembudidaya rumput laut di Desa Ambulu, dapat menjadi contoh bagi daerah lain yang terdampak air rob. “Dengan kreativitas dan adaptasi, apa yang dianggap sebagai bencana dapat berbalik menjadi berkah,” kata Diani.
Diani mengungkapkan, bahwa dalam 10 tahun terakhir, petambak ikan di desanya sempat mengalami kesulitan dan kehilangan mata pencarian akibat air rob.
Namun, setelah sebagian warga mulai menanam rumput laut di lahan bekas tambak ikan, akhirnya 90 persen dari total petambak ikan beralih ke budidaya rumput laut.
“Modal belanja bibit per hektare, Rp2 juta, dan untuk pemeliharaan, membutuhkan 5 kantong garam khusus per hektare setiap bulan, dengan harga per kantong garamnya Rp15.000,” katanya.
Sementara untuk panen, kata dia bisa dilakukan setiap 2 bulan sekali. Dan dalam sekali panen, kami bisa menghasilkan sekitar 2 ton dengan harga rumput laut keringnya per kilogram Rp5.000.
“Sehingga, budidaya rumput laut, memiliki resiko yang minim dan perawatan yang mudah, tapi hasil melimpah” kata Diani.
Warga Ambulu, Rosikin yang juga memilih alih profesi dari peternak ikan ke budidaya rumput laut, mengaku dengan modal awal sekitar Rp3 juta, pembudidaya rumput laut dapat memanen hasil hingga 6 kali dalam setahun, dengan interval panen setiap 2 bulan sekali.
“Harga rumput laut kering kan Rp5000 per kilogram. Setiap 2 bulan sekali panen. Dan dalam 1 hektare lahan, bisa meraup untung Rp10 juta. Padahal sebelumnya, setelah sebelum budidaya rumput, kita sering rugi karena tambak ikan saya kena rob terus,” katanya.
Sehingga, keberhasilan budidaya rumput laut di Desa Ambulu, tidak hanya membawa manfaat ekonomi bagi warga sekitar, tetapi juga menjadi contoh bagi daerah lain yang terdampak air rob.
Dengan kreativitas dan adaptasi, warga Desa Ambulu dapat mengubah tantangan menjadi peluang dan meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. (Nawawi)














































































































Discussion about this post