Oleh : Indah Budi Astuti
Statistisi BPS Kota Cirebon
Pandemi covid-19 sudah satu tahun lebih menjangkit kehidupan kita, dan kita tidak akan pernah tahu kapan wabah corona akan berakhir. Walau masyarakat sudah mulai merasa jenuh dengan keadaan yang terjadi, tapi kita harus tetap bersabar menghadapi semuanya. Roda kehidupan terus berputar, ada ataupun tidak adanya wabah ini.
Ramadhan 1442 H merupakan Ramadhan kedua di tengah pandemi. Berbeda dengan Ramadhan sebelumnya, di bulan yang penuh berkah tahun ini terlihat adanya peningkatan aktifitas masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya baik kebutuhan makanan dan kebutuhan non makanan. Walau anjuran pemerintah tentang protokol kesehatan harus selalu tetap di jalani, seperti memakai masker, selalu cuci tangan, menghindari kerumunan dan harus menjaga jarak tidak menghalangi masyarakat untuk beraktifitas. Bahkan dengan adanya pemberian vaksin secara bertahap, aktifitas masyarakat sudah mulai kembali normal, terlihat di sejumlah pusat perbelanjaan Kota Cirebon yang di penuhi pengunjung. Demikian juga di pasar-pasar tradisional yang tidak kalah ramai pembeli sehingga terjadi lonjakan permintaan dan di barengi dengan kenaikan harga. Hal ini berbanding terbalik dengan Ramadhan tahun lalu, walau suasana pandemi masih berlangsung tapi kegiatan ekomomi sudah kembali menggeliat.
Trend kenaikan harga pada bulan Ramadhan di tengah pandemi kali ini juga sudah di rasakan masyarakat di awal puasa, bahkan kenaikan harga di sejumlah bahan makanan sudah dirasakan masyarakat di awal April. Mahalnya harga kebutuhan pokok membuat masyarakat menjerit karena tidak sedikit orang bisa memenuhi kebutuhannya, akibat pandemi banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan bahkan jatuh miskin.
Ramadhan belum selesai, berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) pada bulan April Kota Cirebon mengalami inflasi sebesar 0,33 persen. Pada bulan Maret sebelum Ramadhan, berdasarkan BRS Kota Cirebon mengalami inflasi sebesar 0,07 persen. Dibandingkan inflasi bulan sebelumnya di bulan April yang bertepatan dengan bulan Ramadhan laju inflasi mengalami kenaikan cukup tinggi. Inflasi pada bulan April terjadi karena pengaruh dari pengeluaran kelompok makanan, minuman dan tembakau yang menyumbang inflasi sebesar 1,10 persen. Tiga komoditas yang memberikan andil inflasi yaitu daging ayam ras sebesar 0,16 persen, cabai merah sebesar 0,05 persen dan pepaya sebesar 0.04 persen. Kelompok pengeluaran pakaian dan alas kaki juga mengalami inflasi sebesar 0.07 persen.
Biasanya trend kenaikan harga juga akan akan terus berlangsung di akhir Ramadhan atau mendekati hari raya Idul Fitri yang jatuh pada bulan Mei. Di awal Mei masyarakat sudah dikagetkan kembali dengan kenaikan harga daging ayam ras. Meroketnya kembali harga daging ayam ras membuat masyarakat resah dan mengeluh. Kalau harga terus naik tanpa adanya kontrol dari pemerintah daerah maka kehidupan masyarakat miskin akan semakin terpuruk untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Berbeda dengan Ramadhan 1441 H yaitu Ramadhan tahun 2020 yang di mulai pada tanggal 24 April, dimana Ramadhan kala itu pemerintah melakukan kebijakan Social distancing bahkan Lockdown. Lockdown yang dilakukan selama tiga bulan yang di awali di akhir Maret mengakibatkan guncangan penawaran (supply shock inflation) yaitu penurunan penawaran barang dan jasa. Biasanya di Ramadhan dan Idul Fitri akan terjadi peningkatan permintaan yang berakibat terjadinya kenaikan harga barang dan jasa akan tetapi di Ramadhan dan Idul Fitri tahun 2020 terjadi penurunan permintaan (demand pull shock).
Melemahnya daya beli masyarakat pada Ramadhan tahun lalu, berimbas pada penurunan harga karena stok barang melimpah di pasaran yang bersamaan dengan musim panen tiba, sehingga mengakibatkan laju inflasi mengalami tekanan. Menurut BRS Kota Cirebon pada bulan April 2020 terjadi inflasi sebesar 0,02 persen. Inflasi bulan April lebih rendah jika di bandingkan dengan bulan Maret yaitu sebesar 0,29 persen yang bukan bulan puasa. Sedangkan di bulan Mei, dimana kita masih menjalankan ibadah puasa dan di bulan ini juga umat islam merayakan hari raya Idul Fitri, inflasi semakin terjun bebas. Menurut BRS Kota Cirebon pada bulan Mei mengalami deflasi sebesar 0,09 persen. Deflasi terjadi karena pengaruh dari pengeluaran kelompok makanan, minuman dan tembakau yang menyumbang deflasi tertinggi sebesar 0,47 persen. Adapun tiga komoditas penyumbang deflasi tertinggi yaitu cabai merah sebesar 0,10 persen, telur ayam ras sebesar 0,06 persen dan daging ayam ras sebesar 0,06 persen. Selain kelompok pengeluaran makanan,minuman dan tembakau, kelompok pengeluaran pakaian dan alas kaki juga mengalami deflasi, yaitu sebesar 0,01 persen. Biasanya Ramadhan dan hari raya itu identik dengan peningkatan permintaan konsumsi makanan, minuman dan pakaian baru, tapi pada kelompok pengeluaran ini justru mengalami deflasi. Adanya kebijakan pemerintah tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), penutupan di sejumlah aktifitas ekonomi, pengurangan jam operasional, larangan pemerintah untuk mudik dan lebaran di rumah saja berakibat penurunan daya beli masyarakat sehingga berdampak terhadap terjunnya inflasi Ramadhan tahun lalu.
Upaya pemerintah daerah
Kenaikan harga yang cukup tinggi di beberapa komoditas pada bulan April berakibat tingginya Inflasi. Untuk menjaga harga agar terjangkau dan tidak mengalami kenaikan yang terlalu tinggi di akhir Ramadhan di perlukan peran pemerintah daerah dan instansi terkait dalam menjaga stabilitas harga. Pemerintah harus memperhatikan kelancaran distribusi dan ketersedian pasokan agar tidak terjadi kelangkaan yang mengakibatkan kenaikan harga.
Pada akhir April kemarin Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Cirebon meluncurkan aplikasi pasarmu.id yaitu pasar murah yang di gelar melalui aplikasi digital. Pemerintah daerah biasanya disetiap Ramadhan menggelar pasar murah secara terbuka, di Ramadhan kali ini karena masih dalam suasana pandemi corona maka pemerintah berailh ke pasar murah melalui aplikasi untuk menghindari kerumuan. Aplikasi ini dengan mudah dapat di install melalui playstore. Selain banyaknya komoditas yang di sajikan, aplikasi ini juga memberi kemudahan dalam berbelanja yaitu kita tinggal klik barang sesuai keinginan dan pesanan langsung bisa di antar sampai tujuan.
Semoga upaya pemerintah ini dapat menekan kenaikan harga di akhir Ramadhan dan menjelang hari raya Idul Fitri 1442 H.***

















































































































Discussion about this post