KUNINGAN, (FC).- Viral video pembukaan lahan untuk jalan di kawasan yang dikaitkan dengan Arunika memicu perbincangan publik hingga membuat Bupati Kuningan Dian Rahmat Yanuar melakukan inspeksi mendadak (sidak) dan menghentikan sementara aktivitas di wilayah tersebut, beberapa waktu lalu.
Menyikapi ramai isu tersebut, PT Puspita Grup akhirnya memberikan penjelasan resmi mengenai kegiatan yang terekam dalam video.
Koordinator Lapangan Agro PT Puspita Grup, Nuky Nurcholis, didampingi jajaran manajemen perusahaan menegaskan, bahwa pekerjaan di lapangan bukan penebangan pohon hutan, bukan pula penggalian masif sebagaimana beredar di masyarakat.
“Pohon yang diamankan itu seluruhnya pohon gulma seperti tanaman Kaliandra, bukan pohon produktif atau pohon endemik,” jelasnya, Senin (8/12).
Menurut Nuky, pohon gulma yang pertumbuhannya agresif dan dapat menghambat sinar matahari masuk ke tanaman lain.
Kondisi itu membuat bibit pohon baru tumbuh tidak optimal. Ia mengungkapkan bahwa pada Tahun 2021 tim pernah melakukan pembersihan secara manual menggunakan golok dan gergaji, namun gulma ini kembali tumbuh dengan cepat.
“Dari pengalaman itu, kami akhirnya memakai alat berat agar pembersihan lebih efektif. Bisa dicek, pohon yang ditebang semuanya gulma,” ujarnya.
Nuky memastikan pohon Pinus, kayu keras, alpukat, dan tanaman besar lainnya tetap dipertahankan.
Jalur akses yang dibuat pun tidak mengambil area yang memiliki pohon, melainkan memanfaatkan tanah kosong yang sebelumnya tidak digunakan.
Pembuatan drainase turut dilakukan untuk menjaga aliran air dan mencegah potensi pergeseran tanah.
Ia menyebut, lahan tersebut pada awalnya merupakan ladang pertanian tidak terawat. PT Puspita Grup kemudian merencanakan pengembangan kawasan itu menjadi alboretum, yakni ruang konservasi, edukasi, koleksi tanaman, hingga laboratorium alam.
“Tahap awal dilakukan dengan mengganti gulma menjadi pohon-pohon penguat tanah. Setelah pohon-pohon itu tumbuh, kawasan akan dibagi ke dalam zona koleksi sesuai jenis tanaman,” jelasnya.
Sejak 2021, PT Puspita Grup mengklaim telah menanam hampir 15 ribu pohon dan menargetkan penanaman tambahan sekitar 50 ribu pohon endemik di area tersebut.
Adapun jenis pohon yang telah ditanam antara lain pohon Pinus, Trembesi, Damar, Jamuju, Iprik, Ampelas, Sonokeling, Pohon Pelangi, Kimeng, Saninten, Kawoyang, Kibesi, Pasang, dan pohon Kalpataru.
“Keanekaragaman pohon itu dipilih untuk memperkuat struktur tanah, menjaga biodiversitas, serta meningkatkan fungsi kawasan sebagai daerah resapan air,” katanya.
Nuky menambahkan, owner PT Puspita Grup juga telah menanam lebih dari 30 ribu bibit pohon di kawasan kaki Gunung Ciremai selama periode 2015-2025 sebagai bentuk kepedulian terhadap keseimbangan ekologis.
“Tidak ada perluasan kawasan wisata Arunika. Fokus kami adalah konservasi. Penanaman pohon ini bagian dari upaya menjaga keseimbangan lingkungan dan mencegah bencana seperti banjir dan longsor,” tambahnya menegaskan.
Melalui klarifikasi ini, PT Puspita Grup berharap polemik yang berkembang dapat diluruskan dan masyarakat mendapatkan informasi yang proporsional tentang kegiatan yang berlangsung di lapangan. (Angga/FC)










































































































Discussion about this post