“Sebelum pandemi perbulan itu kisaran 70 Juta kurang lebihnya, sedangkan sekarang pasca pandemi ya masih lumayanlah sekitar 50 juta rupiah,” ungkap Amih.
Pandemi memang merupakan rintangan bagi setiap orang terutama Amih, spat banyak pending pengiriman ke toko-toko retail, toserba, supermarket, oleh-oleh, ke luar kota, bahkan luar negeri. Sebab, PSBB dan penolakan pengiriman Indonesia ke beberapa negara tertentu.
Untuk Pegawai yang ia pekerjakan sendiri tidaklah berkurang ataupun bertambah. Hanya ada 7 orang pegawai tetap yang Amih pekerjakan sebab, Amih merasa masih sanggup dengan jumlah 7 orang tersebut.
Tetapi, sesekali Amih mengundang tetangga sekitar 15 orang guna membantu pengemasan apabila ada pesanan yang cukup banyak.
Bupati Ciamis beberapa waktu lalu, kata Amih mengundang dirinya untuk menjadi narasumber dalam seminar ekonomi kreatif di sana dan juga dirinya mendapat penghargaan dan apresiasi dari mereka.
Tidak dapat dipungkiri Amih memang sudah mendapatkan penghargaan dan apresiasi dari berbagai tempat. Namun, menurut Rachmat sang suami banyak pejabat lokalnya sendiri yang kurang mendukung usaha Amih ini.
Meskipun begitu Amih terus berupaya untuk membantu orang-orang sekitar untuk berkembang dan maju. Rachmat mengakui, jika sebenarnya pemerintah dari pusat sangat mendukung dan mengupayakan kesuksesan UMKM di Indonesia.









































































































Discussion about this post