KAB. CIREBON, (FC).- Cirebon memiliki tokoh dalam perkembangannya, salah satunya mereka memiliki kesaktian dan juga budi pekerti yang luhur.
Seperti halnya sosok Syekh Jago Haji Danuwarsi, seorang guru sekaligus seorang pemimpin para Walinya Allah yang mengajarkan tentang kebaikan di tanah Jawa, khususnya di Cirebon.
Sepak terjangnya sendiri dibuktikan dengan adanya peninggalan Kramat Balong Sumber Kahuripan Cirebon.
Lokasinya berada di Desa Sumber Kelurahan Sumber Kecamatan Sumber Kabupaten Cirebon.
Juru Kunci Kramat Balong Sumber Kahuripan Cirebon, Raden Junaedi kepada FC mengatakan, Eyang Danuwarsi selain menetap dan dimakamkan di bumi Cirebon, pernah menjadi seorang pemimpin di daerah Dieng.
Beberapa peninggalannya ada di Dieng dan juga di Cirebon, seperti di daerah Sumber Cirebon ini tahun 945.
“Adapun kelahiran beliau tahun 704 Aji Saka Lintang Wulan, adapun wafatnya sendiri tahun 102 Aji Saka Lintang Wulan,” bebernya, Rabu (3/3).
Pria yang merupakan cucu dari Syekh Jago Haji Danuwarsi menambahkan, kala itu Eyang Danuwarsi adalah seorang yang rajin dalam bertapa dan menjadi guru para Wali di tanah Jawa.
“Beberapa peninggalannya di Kramat Balong Sumber Kahuripan Cirebon sendiri, seperti adanya lokasi sumur kahuripan, dua ada tajug Kramat, ke tiga adanya kolam untuk pemandian, dan makam Eyang Danuwarsi,” jelasnya.
Raden menjelaskan, ada beberapa nama dan julukan bagi Eyang Danuwarsi, seperti Syekh Jago, kemudian disebut juga Pangeran Geni, Kiyai Semar dan berbagai nama lainnya, namun tetap satu orangnya.
“Syekh Jago Haji Danuwarsi sendiri, jika diurutkan masih keturunan dari Nabi Adam sebagai cucu ke sekiannya,” tambahnya.
Dalam perjuangannya menyebarkan Islam, Syekh Jago sendiri dalam kehidupannya kerap mengajarkan kebagusan, mendidik jati diri dan mengajarkan kebenaran.
“Menjadi orang yang sabar dan orang yang welas asih, seperti contohnya langsung yaitu anak kesayangannya Pangeran Cakrabuana atau Pangeran Walang Sungsang, yang memiliki kepribadian welas asih,” ujarnya.
Peninggalan Syekh Jago Haji Danuwarsi ini, biasanya ramai dengan kegiatan ibadah dari para jamaah yang datang dari berbagai daerah datang untuk beribadah tiap malam Jumat.
“Seperti menggelar tahlilan tiap malam, untuk mencari keberkahan dan karomah dari Eyang Danuwarsi, aktivitas itu masih berlangsung hingga sekarang, akan tetapi karena musim corona jumlahnya lebih sedikit sekarang,” pungkasnya. (Egi/Job/FC)















































































































Discussion about this post