Sementara itu, Agung Firmansyah, sekretaris Lesbumi PCNU Kab Cirebon mengatakan, bahwa sejumlah kesenian khas Cirebon yang sudah hampir tidak dikenal oleh masyarakat, dipentaskan lagi dalam kegiatan Harlah ini.
Agung juga menyebutkan, bahwa lembaganya juga memiliki progran Njujug Tajug, yaitu mendatangi masjid atau langgar, dengan menekankan pentingnya masjid dalam fungsi sosial, selain fungsi utama sebagai rumah ibadah.
Dalam kegiatan tersebut, Lesbumi juga mementaskan seni dengan penekanan pesan-pesan kemanusiaan dan relijiusitas yang terkandung di dalam kesenian. “Sekaligus sebagai bentuk upaya pelestarian seni budaya juga,” kata Agung.
Menurut Agung, seni budaya bukan hanya saja digunakan untuk berdakwah saat zaman para wali, namun banyak juga yang memiliki nilai lain yang terkandung.
Seperti halnya kesenian Cokek. Kesenian yang dipentaskan oleh kelompok seni dari Kecamatan Losari Kab Cirebon ini, sebenarnya merupakan musik etnis tionghoa. Bahkan, kesenian ini lebih sering dipentaskan dikegiatan acara Tionghoa.
“Namun pada kegiatan ini, kesenian tersebut dipadukan dengan seni barongan khas Cirebon,” kata Agung.
Diketahui, sejumlah kesenian yang dipentaskan dalam harlah ini, yaitu Cokek dan barongan, wayang wong, wayang kulit, karinding dan ronggeng bugis. (Nawawi)












































































































Discussion about this post