KABUPATEN CIREBON, (FC).– Ribuan masyarakat memadati Ritual Muludan di Situs Balong Kramat Tuk, Desa Kertawinangun, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, Kamis pagi (11/9).
Tradisi yang sudah turun-temurun ini ditandai dengan pengangkatan kayu perbatang peninggalan Pangeran Mancur Jaya yang hanya boleh dilakukan oleh keturunannya.
Raden Suparja, juru kunci Balong Kramat Tuk mengatakan, ritual ini selalu digelar setiap 19 Mulud dengan rangkaian doa serta pemberian bunga dan kemenyan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
“Kayu perbatang disemayamkan di rumah juru kunci untuk didoakan bersama. Ini kewajiban yang harus dilaksanakan meski dengan segala keterbatasan,” ujar Raden Suparja.
Raden Suparja menuturkan, penyelenggaraan kegiatan masih terkendala minimnya dukungan anggaran dari pemerintah, hanya sekitar 10 persen dari kebutuhan. Selebihnya ditutup melalui swadaya masyarakat dan bantuan lembaga keuangan.
“Boro-boro untuk menjamu tamu, kadang hanya sekadarnya saja. Tapi ini kewajiban, jadi harus tetap berjalan. Semoga dukungan pemerintah semakin nyata agar tradisi ini tetap lestari dan bisa mengangkat seni budaya Cirebon,” imbuhnya.
Meski demikian, acara semakin semarak dengan penampilan sekitar 25 kesenian tradisional Cirebon, mulai dari tari topeng, kuda lumping, hingga sintren.
Sejumlah UMKM lokal juga ikut berpartisipasi, seperti pengrajin emping melinjo dan makanan khas lainnya, yang menambah pendapatan masyarakat sekitar.
Di tempat yang sama, Prabu Diaz, pengamat seni dan budaya Cirebon, menilai pelestarian situs Balong Kramat Tuk sangat penting karena berkaitan dengan sejarah Caruban Nagari.
Berdasarkan catatan Arsip Nasional, lokasi ini menjadi tempat ditemukannya sumber air oleh Nyimas Pakungwati dan pasukan Kesultanan Cirebon di masa lampau.
“Ritual ini tidak keluar dari kaidah Islam karena bagian dari peringatan Maulid Nabi. Tradisi seperti ini mengingatkan kita bahwa Cirebon punya leluhur dan peninggalan berusia ratusan tahun,” jelas Prabu Diaz yang juga sebagai Panglima Laskar Macan Ali Nusawantara.
Prabu Diaz berharap pemerintah lebih peduli menjaga dan mengembangkan situs-situs budaya di Cirebon.
“Banyak situs yang kondisinya memprihatinkan, padahal bisa dijadikan wisata religi yang sangat langka di daerah lain. Minimal keberadaannya dijaga agar tidak hilang,” katanya.
Selain kayu perbatang, situs Balong Kramat Tuk menyimpan peninggalan berharga seperti peti tretes kandaga kuno abad ke-14, keris pasukan Pangeran Mancur Jaya, kuda lumping dari kulit banteng, hingga singgasana batu giok.
Ribuan peziarah dari Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, hingga Jakarta dan Bekasi hadir mengikuti kirab pusaka pada malam harinya. (Magang/FC)











































































































Discussion about this post