Menurutnya, secara umum dampak yang dirasakan langsung adalah adanya keterbatasan dalam berinteraksi dengan petani tebu lainnya.
“Kami selaku wadah petani tebu, dengan adanya pandemic ini tidak bisa mengadakan musyawarah sebagai tempat berbagi pendapat sehingga ketinggalan informasi, kalau dilapangan kami masih bisa operasional,” ujarnya.
Ditambahkannya, dari sisi ekonomi, yang selalu menjadi permasalahan petani tebu adalah harga gula, sebelum giling harga tinggi, setelah giling malah turun.
Turunnya harga gula, ini dampaknya kepada petani tebu. Harapannya harga bisa lebih tinggi. Tapi karena memang memperhitungkan kondisi masyarakat secara umum karena pandemi, pemerintah menekan daripada harga gula itu sendiri agar bisa dikonsumsi oleh masyarakat.
Dengan kondisi pabrik gula Sindanglaut ditutup, Mulyadi menerangkan, manajemen pabrik sudah memperhitungkan sedemikian rupa apalagi jumlah tebu yang akan giling juga berkurang.


















































































































Discussion about this post