KOTA CIREBON, (FC).- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menjadi sorotan publik. Di sejumlah daerah terjadi kasus keracunan yang dugaan dari MBG ini.
Selain itu ada potensi bahaya lingkungan akibat pencemaran lingkungan dari limbah dapur MGB.
Isu ini mencuat dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Limbah Dapur Makan Bergizi Gratis, Berkah atau Bencana?” yang digelar di ruang konvergensi Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon, Sabtu (4/10).
Direktur Pusalsfahmina Pusat Studi Agama, Lingkungan dan Sosial ISIF Cirebon, Abdul Malik mengatakan, bahwa fokus pengawasan MBG tidak boleh hanya berhenti pada aspek gizi dan keamanan makanan.
Menurutnya, persoalan limbah dapur justru bisa menjadi “bom waktu” jika tidak segera dikelola dengan baik.
Menurut Abdl malik, tujuan menyelenggarakan FGD ini adalah untuk mendorong para pengelola dapur MBG, serta berharap BGN dan pemerintah lebih adil dalam mengevaluasi pengelolaan dapur MBG.
“Masalahnya bukan cuma soal keracunan makanan, tapi juga sampah dan limbah cair seperti minyak, sabun, serta bahan kimia lain yang bisa merusak air tanah,” ujar Abdul saat diwawancarai media.
Abdul menyebutkan saat ini limbah MBG masih dalam skala kecil dan bisa ditangani warga sekitar, maka ke depan kondisinya bisa jauh lebih serius.
Jika nanti dapur MBG makin banyak, maka potensi limbahnya bisa mencapai ratusan ton bahkan jutaan ton per hari yang bisa mengerikan jika tak dikelola.
“Tapi kalau dikelola dengan baik, justru bisa menciptakan ekosistem lingkungan yang sehat sekaligus peluang ekonomi baru,” ucapnya.
Baca Juga: DLH Kota Cirebon Datangi Dapur MBG Harjamukti
Ia berharap Badan Gizi Nasional (BGN) dapat berperan aktif memberikan penyuluhan dan standar pengelolaan limbah bagi dapur MBG di berbagai daerah.
“Minimal, dapur MBG diberi penyuluhan agar bisa memilah limbah. Pemerintah juga perlu bareng-bareng dengan masyarakat dan stakeholder lain agar dapur MBG benar-benar membawa manfaat, bukan malah keluhan,” jelas dia.
Sementara itu, Rona Ayudya, Konsultan Peternakan yang turut hadir dalam FGD, menyoroti pentingnya aspek quality control dan pemanfaatan limbah.
Menurutnya, isu MBG selama ini terlalu terfokus pada kasus keracunan makanan, padahal pengawasan kualitas bahan dan pengelolaan limbah juga sangat penting.
“Kalau kita lihat di berita, kebanyakan yang disorot soal keracunan. Padahal, yang paling penting itu kontrol kualitasnya, bahan yang masuk seperti apa dan yang keluar harus seperti apa,” kata Rona.
Ia menjelaskan, bahwa bakteri bisa berkembang cepat pada makanan yang tidak dikelola dengan benar. Karena itu, pengawasan harus dilakukan terus-menerus, termasuk dengan menurunkan petugas ke lapangan. (Agus)














































































































Discussion about this post