KUNINGAN, (FC).- Kekhawatiran terhadap rencana pengembangan panas bumi di Gunung Ciremai kembali menguat setelah Peneliti The Gunung Institute, Pepep DW, mengingatkan adanya ancaman serius yang berpotensi mengubah lanskap ekologis, budaya, dan ruang hidup masyarakat di sekitar gunung.
Ia menegaskan bahwa isu panas bumi tidak dapat dipandang sebagai persoalan teknis energi semata, melainkan menyangkut batas ruang hidup manusia dan keberlangsungan ekosistem pegunungan.
Dalam keterangannya beberapa waktu lalu saat dihubungi melalui pesan WhatsApp, Pepep DW menyebut banyak pihak keliru memahami proyek panas bumi sebagai isu megawatt.
“Ini bukan hanya soal megawatt. Ini soal kapan manusia bebas, berbatas, hingga kehilangan akses ruang hidupnya,” ujarnya.
Ia mengatakan kekhawatiran warga lereng Ciremai tercermin dalam metafora yang kuat.
“Ungkapan ‘Kerajaan Api, bak Ojay, selalu ingin menguasai!’ menggambarkan kecemasan masyarakat terhadap ekspansi industri panas bumi ke wilayah-wilayah sakral pegunungan,” tuturnya.
Pepep menjelaskan bahwa persoalan Ciremai harus ditempatkan dalam konteks lebih luas, yakni rencana pengembangan 11 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) di Jawa Barat, seperti Cibeureum-Parabakti, Pangalengan, Kamojang-Darajat, Tangkuban Perahu, Tampomas, hingga Ciremai sendiri.
Menurutnya, dari seluruh lokasi tersebut, Ciremai merupakan wilayah paling rentan karena berstatus taman nasional dan memiliki nilai kosmologis yang tinggi bagi masyarakat Sunda.
“Gunung dalam budaya Sunda adalah ruang sakral yang mempersatukan air, leluhur, dan tata hidup. Jika proyek dipaksakan tanpa masyarakat, itu bukan transisi energi. Itu memutus hubungan sakral manusia dengan gunung,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa anggapan energi terbarukan selalu identik dengan keberlanjutan kini banyak ditinjau ulang.
Pengembangan geothermal, kata Pepep, dapat melahirkan bentuk kolonisasi sumber daya baru apabila dilakukan tanpa etika ekologis dan tanpa persetujuan masyarakat adat serta penjaga kawasan.
“Jika etika ekologis tidak kokoh, transisi energi hanya mengulang pola kolonisasi masa lalu,” tegasnya.
Pepep turut menyinggung dampak perubahan regulasi setelah diberlakukannya UU Cipta Kerja, yang memungkinkan perubahan status kawasan konservasi, termasuk zona inti taman nasional.
Kebijakan ini dinilainya sangat rawan bagi Gunung Ciremai yang memiliki sensitivitas ekologis tinggi.
Ia juga menjelaskan bahwa proyek geothermal Ciremai yang kini berstatus Proyek Strategis Nasional telah mengalami pergantian operator.
Terakhir, izin pengusahaan disebut berada di bawah PT Sinar Mas melalui PT Daya Anugerah Sejati Utama dengan target operasi pada 2025.
“Masyarakat melihat ada kemungkinan keterlibatan elite nasional dan lokal sebagai ‘operator tingkat pejabat’ yang bisa membuka jalan bagi percepatan proyek,” katanya.
Di Kuningan, Pepep menyebut gerakan penolakan masyarakat relatif kuat melalui kelompok Gempur (Gerakan Masyarakat Penyelamat Gunung Ciremai).
Namun di Majalengka, gerakan serupa dinilai belum sekuat itu.
“Saya mengajak masyarakat Majalengka untuk lebih semangat menjaga gunung. Jangan sampai perubahan status kawasan memudahkan eksploitasi,” ujarnya.
Pemerintah sebelumnya mengeluarkan klarifikasi terkait isu geothermal.
Mantan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menegaskan bahwa isu “gunung dijual” merupakan hoaks, sementara Kementerian ESDM menjelaskan bahwa pemanfaatan geothermal hanya memanfaatkan area tertentu di luar zona inti taman nasional.
Namun Pepep menilai kekhawatiran masyarakat tidak terletak pada luas lahan yang dipakai, melainkan pada perubahan lanskap ekologis dan sosial yang dapat mengancam keberlanjutan ruang hidup.
WKP Ciremai yang ditetapkan sejak 2011/2016 memiliki potensi cadangan terduga 150 MW.
Namun Pepep menilai angka tersebut tidak sebanding dengan risiko ekologis, budaya, dan sosial yang harus ditanggung masyarakat.
“Energi yang merusak ruang hidup bukanlah masa depan. Itu membuat kita kehilangan akar sebagai masyarakat pegunungan,” tegasnya.
Pepep DW menutup pernyataannya dengan peringatan bahwa masa depan Gunung Ciremai kini berada di persimpangan.
“Ciremai hanya satu. Jika kita kehilangan hubungan dengan gunung, kita kehilangan masa depan kita sendiri,” ujarnya. (Angga)










































































































Discussion about this post