” Sampai saat ini belum ada kepastian kepemilikan rumah dan lahan yang di tempati, saya mohon kepada pemerintah berikan kepastian kepemilikan lahan yang kami tempati di lokasi Translok Desa Seuseupan ini,” pinta Agus penuh harap.
Ketika ditanya apakah ada niat pulang kampung ke daerah asal?, Agus menjelaskan, bahwa kejadian bencana di Aceh dulu telah membuat keluarganya berantakan dimana 3 anaknya dua laki-laki dan satu perempuan saat kejadian tsunami dua anak laki-lakinya hilang, sementara dia hanya membawa satu anak perempuannya.
Saat tinggal di lokasi Translok Desa Seuseupan, harta benda yang dimilikinya yang berada di kampung halamannya sudah dijual, sehingga saat ini sudah tidak ada tempat ketika harus pulang kampung, dirinya saat ini menempati rumah di lokasi Translok Desa Seuseupan hanya bersama istrinya saja, sementara anak perempuan satu-satunya sudah bersama suaminya.
“Saya nggak tahu harus bagaimana kalau harus pulang kampung di Desa Wanagiri Kecamatan Klangenan sudah tidak ada, “paparnya dengan nada menyedihkan. (Nawawi)















































































































Discussion about this post