Karena, mangga muda untuk varietas ini memiliki daging yang sangat sedikit. Sehingga, sulit untuk dibuat manisan. Varietas Mangga yang ia gunakan juga, tidak digunakan secara bersamaan, artinya bergantung musim.
“Kalau musim mangga arumanis ya arumanis semua, kalau kopek ya kopek semua yang dipake, jadi ga di campur, tapi untuk rasa yang paling cocok dan enak itu mangga arumanis indramayu,” tandasnya.
Arumanis sendiri, diungkapkan Nurhasanah, memiliki harga yang lebih tinggi dibanding mangga muda lainnya. Yaitu kisaran 2.500 ribu rupiah perkilo sedangkan, mangga kopek dan yang lain 2.000 ribu rupiah perkilo.
Dalam sekali produksi sendiri Nurhasanah dapat menggunakan mangga muda hingga 1.500 kilo atau 1,5 ton mangga muda, yang berasal dari petani maupun BS dari menyuplai perusahaan.
Itu sebelum pandemi, pasca pandemi ia hanya dapat mengolah banyaknya 500 kilogram mangga, yang memang berdampak pada penghasilan pula.
Pada awal usaha 2001 hingga 2006an ia mendapat pemasukan 100 hingga 300 perhari dan berkembang menjadi 300 sampai 2 juta rupiah perhari.
Dan selama perjalanan usahanya pun ia mengambangkan berbagai manisan buah lainnya seperti, ciremai, nanas, pepaya, kedongdong, salak, dan berbagai jenis manisan lainnya juga dengan manisan keringnya.
Akan tetapi, pada saat itu memang masih belum kemasan pouch, Nurhasanah mulai menggunakan kemasan pouch sendiri pada tahun 2017an.
“Saat itu saya di saranin sama anak buat pakai kemasan biar ga ribet dan pada saat itu juga mulai branding yaitu “Intan Manisan” nama anak saya,” ungkapnya.
Dan memang saat itu sudah kantongi izin PIRT dan beberapa izin lainnya, namun baru terlengkapi lagi setelah masuk program binaan Disperindag yaitu CIC.
“Yaa, sebenarnya sudah kenal lama dengan ibu Endang dari Indag yang sebelumnya di Dinkop UKM dan beliau yang bantu saya untuk izin pada saat itu,”ujarnya.
Tapi, sambung Nurhasanah, setelah masuk CIC pada tahun ini lebih lengkap lagi izinnya seperti AKG, Slogan Cirebon Katon, dan beberapa lainnya.
Tapi, meski begitu tetap dikarenakan pandemi ia alami kerugian finansial maupun mubazir manisan mangga maupun mangganya sendiri hingga ratusan bahkan ribuan kilo, dan alami kekosongan pemasukan selama 3 bulan.
Perlahan tapi pasti, kini kembali mulai naik dengan angka 300 sampai 1 juta perhari. “Alhamdulillah naik lagi tapi, ya harapan bisa segera ilang pandeminya karena kan kasian juga petaninya,” tuturnya. (Sarrah/Job/FC)















































































































Discussion about this post