Dan pada saat itu sekitar tahun 2001 hingga 2006 an sendiri, Nurhasanah masih menjalankan bisnis manisan mangganya. Namun, karena masa berlaku atau expire mangga tersebut hanya bertahan 1 minggu.
Hingga pada akhirnya, muncul sebuah masalah sampah biji dan kulit di Jakarta yang menumpuk hingga 1 truk perhari. Akhirnya, Nurhasanah dan suami diminta untuk menyediakan tempat bagi perusahaan tersebut untuk pengelolaan mangga setengah jadi.
“Ya, mereka minta kita sediakan tempat untuk pengelolaan mangga setengah jadi yaitu kaya sudah diasinkan saja,” ungkapnya.
Lalu, lanjut Nurhasanah, mereka (perusahaan) kirim pekerjanya yang berasal dari Jawa ke Cirebon untuk kelola mangga muda ini dan pada saat itu pula Nurhasanah belajar bagaimana mengelola mangga agar lebih tahan lama.
Saya belajar dengan mereka, dengan ahlinya soal fermentasi ada 1 orang itu untuk belajarnya saja saya habiskan cukup banyak dana hingga puluhan juta,” kata Nurhasanah.
Tapi, lanjutnya, ini perlu karena ia ingin manisan miliknya pun lebih tahan lama. Meski begitu, tetap untuk sambal Nurhasanah miliki resep tersendiri.
“Alhamdulillah udah belajar itu kita bisa bertahan lama masa expirenya jadi 1 tahun tapi untuk beberapa mangga hanya 6 bulan karena kalau lebih dari itu mangganya itu bisa jadi bubur,” ucapnya.
Sedangkan, mangga yang benar-benar dapat bertahan lama adalah mangga kopek, baik tekstur dan yang lainnya. Ibu yang kini menginjak usia 38 tahun ini jiga menyampaikan, bahwa terdapat mangga yang tidak dapat dikelola sebagai manisan yaitu mangga gedong gincu atau gedong lainnya.















































































































Discussion about this post