MAJALENGKA, (FC).ā Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Majalengka (HIMMAKA) Cirebon turun langsung ke tengah masyarakat melalui program Bakti Sosial (Baksos) HIMMAKA Berdaya di Desa Singawada, Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka.
Program pengabdian yang di danai dari Himmaka sendiri, berlangsung selama dua pekan, mulai 22 Juni hingga 5 Juli mendatang.
Berbeda dengan kegiatan bakti sosial yang identik dengan pemberian bantuan sesaat, HIMMAKA mengusung konsep pemberdayaan masyarakat yang menempatkan warga sebagai pelaku utama pembangunan desa.
Selama berada di Singawada, para mahasiswa menggelar berbagai program di bidang pendidikan, lingkungan, ekonomi, keagamaan, hingga pemberdayaan masyarakat.
Ketua Umum HIMMAKA Cirebon, Arfi Muhammad Fajar mengatakan, kegiatan ini merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
Baksos HIMMAKA saat ini dirancang untuk memberikan dampak yang nyata dan berkelanjutan, bukan hanya sekadar memenuhi program kerja organisasi.
“Selama sepekan kami telah berbaur dengan masyarakat. Berbagai kegiatan telah dilaksanakan, mulai dari edukasi lingkungan yang menghadirkan narasumber dari Dinas Lingkungan Hidup, edukasi pendidikan bersama Dinas Pendidikan, hingga kegiatan kreatif yang melibatkan anak-anak desa,” ujar Arfi, Selasa (30/6).
Arfi menjelaskan, program tersebut juga bertujuan meningkatkan kualitas pengabdian mahasiswa, menumbuhkan semangat gotong royong, mengembangkan potensi lokal sebagai kekuatan pembangunan desa, sekaligus melahirkan kader-kader penggerak yang mampu melanjutkan berbagai program secara mandiri.
Selain itu, HIMMAKA ingin membangun kemitraan jangka panjang dengan pemerintah desa dan masyarakat sehingga manfaat program tetap dirasakan setelah kegiatan berakhir.
Kehadiran mahasiswa mendapat sambutan positif dari Pemerintah Desa Singawada. Kepala Desa Singawada, Hj. Neneng Arnengsih, berharap keberadaan mahasiswa tidak hanya menjadi pelaksana kegiatan sosial, tapi juga mampu memberikan solusi terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Saat ini desa kami terus membangun. Salah satu persoalan yang masih menjadi perhatian adalah pengelolaan sampah. Kami berharap mahasiswa dapat memberikan gagasan maupun edukasi sehingga persoalan tersebut dapat diatasi bersama masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pembina HIMMAKA Cirebon, H. Ahmad Yani mengingatkan seluruh peserta agar memaknai pengabdian sebagai proses belajar bersama masyarakat, bukan sekadar menjalankan kegiatan seremonial.
Menurut dosen UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon tersebut, mahasiswa harus hadir sebagai mitra yang mendampingi masyarakat dalam menemukan solusi atas persoalan yang dihadapi desa.
“Kader HIMMAKA datang bukan untuk menggantikan peran masyarakat, melainkan berjalan bersama, belajar bersama, dan tumbuh bersama menuju desa yang mandiri, maju, serta berdaya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, konsep Baksos Himmaka harus mengedepankan pemberdayaan masyarakat secara partisipatif.
Melalui konsep tersebut, masyarakat menjadi subjek utama pembangunan, sedangkan mahasiswa berperan sebagai fasilitator, pendamping, sekaligus mitra kolaborasi dalam menggali potensi desa dan menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi.
Keberhasilan program, lanjut Ahmad Yani, tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang terlaksana, melainkan dari tumbuhnya kapasitas masyarakat untuk melanjutkan program secara mandiri setelah mahasiswa kembali ke kampus.
Melalui program ini, pihaknya berharap HIMMAKA Cirebon tidak berhenti pada saat kegiatan berlangsung, tapi mampu menjadi bagian dari proses pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.
Namun dengan semangat kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat, berbagai potensi diharapkan dapat berkembang menjadi kekuatan baru dalam mendorong pembangunan Desa Singawada pada khususnya. (Munadi)









































































































Discussion about this post