Oleh: Citra Amiliani AG, M.Pd.
Dosen PIP asal Indramayu
Wabah virus korona atau Coronavirus disease 2019 (Covid- 19) adalah musibah kemanusiaan yang menghantui dunia saat ini. Setiap negara yang sudah terkena wabah ini berusaha keras untuk membasminya agar rakyatnya tetap sehat sejahtera. Adapun negara yang belum diterjang wabah korona menerapkan protokol ketat bagi setiap penduduknya. Tetapi semua upaya ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Virus yang muncul di Wuhan, Tiongkok, akhir tahun lalu itu hingga saat ini belum ada penangkalnya dan menyebar ke mana pun dalam waktu cepat.
Di Indonesia, pemerintah juga bekerja keras mengatasi pandemi ini. Kita berikan apresiasi kepada pemerintah yang sudah dan sedang bekerja mati-matian agar kita semua segera kembali ke kehidupan normal. Kita berterima kasih kepada semua dokter dan petugas medis yang bekerja tak kenal lelah. Kita percayakan kepada pemerintah dan para ahli untuk mengambil langkah terbaik agar pandemi ini bisa diatasi dengan baik. Tetapi kita tidak boleh melupakan berbagai isu penting lainnya, termasuk isu intoleransi.
Apa ada korelasi antara korona dan intoleransi? Baik korona maupun intoleransi merupakan virus dengan persebaran yang sangat cepat dan mematikan. Corona menyerang fisik dan sudah memakan puluhan ribu korban. Sementara itu, intoleransi menyerang otak (pemikiran) dan hati (perasaan). Virus ini juga sudah memakan ratusan ribu atau bahkan jutaan korban. Keduanya merupakan malapetaka bagi manusia dan kemanusiaan. Dampak korona sangat hebat, baik bagi kelangsungan hidup manusia maupun secara sosial, ekonomi, maupun kebudayaan secara luas, termasuk di dalamnya pendidikan.
Demikian pula dampak virus intoleransi. Jutaan orang pun bisa terjangkit virus ini dalam waktu singkat. Berbeda dari virus korona yang bisa di-locked down wilayah persebarannya, virus intoleransi lebih sulit diatasi karena virus ini tidak menyerang wadhag melainkan pemikiran. Dengan kemajuan teknologi informasi seperti sekarang, intoleransi bisa menyerang siapa saja dalam hitungan detik. Orang yang terpapar virus intoleransi ini akan sangat sulit pula untuk disembuhkan. Sendisendi kehidupan manusia pun, baik di tingkat lokal, nasional hingga internasional bisa rusak karenanya. Sekalipun kita tidak pernah menginginkan pandemi seperti korona ini, harapan kita semoga virus ini segera berlalu dengan tidak banyak membunuh manusia melainkan membunuh sikap intoleran, terutama di negara kita.
Sebagai manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, kita percaya selalu ada hikmah di balik musibah. Kini kita semua bersatu membasmi virus ini. Kita tidak lagi melihat siapa yang menolong pasien, atau siapa pasien yang perlu ditolong. Suku bangsa atau kelompok etnis mereka apa, agamanya apa, status sosial dan pendidikannya apa, tidak lagi penting. Yang penting adalah menolong dan ditolong. Inilah sebenarnya karakter asli bangsa kita, menolong sesama yang membutuhkan.
Tujuan Bersama
Sebelum wabah korona menjadi musuh kita bersama saat ini, wabah intoleransi sempat menguras energi kita sebagai bangsa. Berbagai kasus intoleransi dalam lima tahun terakhir ini hampir tidak terhitung jumlahnya, baik dalam skala kecil, menengah, maupun sedang. Inilah yang juga bisa merusak kehidupan kita sebagai bangsa. Dengan merebaknya wabah korona, inilah salah satu berkah itu: kita bersatu-padu memeranginya sebagai musuh bersama. Sikap intoleran atau diskriminatif terhadap orang dan kelompok lain, dalam hal apapun, harus pula kita anggap sebagai musuh bersama yang harus kita hancurkan. Kalau tidak, virus ini ke depan akan menghancurkan kita sebagai bangsa.
Kita dukung upaya-upaya pemerintah dengan mematuhi imbauan dan petunjuk yang sudah digariskan. Kita juga perlu semakin khusuk berdoa agar virus korona segera berlalu dan seluruh sendi kehidupan normal kembali. Sebagai bangsa besar dengan keragaman etnis, kebudayaan, bahasa, agama dan religi asli yang luar biasa, kita patut bersyukur kepada Sang Pencipta. Merebaknya korona yang menebar kematian dan ketakutan harus kita jadikan momentum kebhinnekaan.
Alangkah indahnya setelah pandemi korona ini nanti berlalu, sebagai bangsa kita tetap rukun bersatupadu untuk mewujudkan tujuan bersama. Kita beri kesempatan kepada pemerintah untuk bekerja sebaik mungkin. Sebagai rakyat kita membantu semaksimal mungkin. Sebenarnya kita tidak harus menunggu datangnya wabah seperti ini untuk bersatu. Tetapi barangkali kita masih memerlukan pelajaran penting untuk menyadarkan kita: ternyata wabah penyakit ini tidak memandang agama, suku bangsa atau kelompok etnis, kaya atau miskin. Semua orang bisa diterjangnya. Melihat masjid, gereja, dan tempat-tempat ibadah lain ditutup dan untuk sementara kita tidak bisa berkumpul sebagai umat Tuhan dan makhluk sosial, sangat menyesakkan dada. Ini yang harus selalu kita ingat. Jangan lagi masa lalu yang kelam terulang ke depan.
Sejarah membuktikan bahwa ketika kita memiliki musuh bersama, sebagai bangsa kita bersatupadu. Tetapi ketika musuh bersama itu tidak ada, kita lantas gaduh dan kisruh sendiri, berebut kekuasaan atau sok berkuasa dan masih ada saja di antara kita yang bersikap intoleran dan diskriminatif. Jangan lagi hal ini terulang. Kondisi saat ini harus kita jadikan momentum kebhinnekaan. Saatnya kita mendidik anak bangsa bahwa kita adalah satu, bangsa Indonesia, terlepas dari apa pun suku, agama, kebudayaan, dan bahasa kita.














































































































Discussion about this post