MAJALENGKA, (FC). – Hujan lebat yang terjadi di wilayah Majalengka pada Senin (28/12) sore, membuat sebagian wilayah terendam banjir. Setelah ratusan hektar sawah di wilayah Desa Jatiraga Kecamatan Jatitujuh dan sekitarnya terendam akibat luapan dari Sungai Cibuaya, kini banjir juga menimpa area sawah di beberapa desa yang ada di Kecamatan Ligung.
Seperti nampak di area pesawahan Desa Leuweunghapit Kecamatan Ligung, tanaman padi yang baru berumur satu bulan dan baru saja di pupuk, kini nampak seperti lautan, semuanya terendam banjir akibat luapan dari Sungai Cikamangi.
Banjir yang pertama kali dimusim tanam rendengan tahun ini membuat para petani dibuat ketar ketir. Pasalnya padi yang baru berumur sebulan ini dikhawatirkan akan mati akibat rendaman banjir manakala banjirnya berlama lama. Beruntung banjir dari luapan Sungai Cikamangi ini biasanya cepat surut sehingga padi pun terselamatkan.
Akibat banjir kali ini, petani dibikin pusing tujuh keliling, pasalnya belum lama ini petani dipusingkan dengan menghilangnya pupuk bersubsidi, mereka harus merogoh kocek yang lebih dalam lagi untuk memupuk tanaman padinya dengan terpaksa membeli pupuk non subsidi.
Kini setelah tanaman padinya selesai di pupuk, banjir menimpa sawah mereka, mau tidak mau para petanipun di bikin pusing tujuh keliling.
Toni, seorang petani asal Blok Cikamangi Desa Leuweunghapit kepada awak media mengatakan, untuk tahun ini petani dibayangi dengan kerugian yang cukup besar. Penyebabnya, disamping biaya garapnya tinggi, pupuk bersubsidi pun sulit didapat.
Kartu tani yang dimilikinya pun tak bisa mendapatkan pupuk bersubsidi, karena memang pupuknya tidak ada, kalaupun ada harganya non subsidi.
“Yah, nasib petani selama ini belum menentu, pas menggarap biaya operasional dan pupuk mahal, begitu panen harga padi murah, kapan petani dibuat sumringah,” kata Toni, Selasa (29/11).
Dikatakannya, seharusnya saat ini pemerintah berpihak kepada petani, dengan cara mempermudah mendapatkan pupuk bersubsidi dan saat panen tiba, harga padi pun standar alias tidak anjlok.
Sedangkan terkait banjir yang kerap melanda, seharusnya pemerintah mengambil kebijakan yang tepat dengan cara membuat tanggul permanen di sepanjang Sungai Cikamangi.
Terpisah, Kades Leuweunghapit Didi Suryadi, saat dikompirmasi terkait banjir yang melanda wilayahnya, Dia tidak terlalu banyak berkomentar. Disamping banjir di wilayahnya ini sudah biasa, juga sudah cape ngomong dan usul ke pemerintah.
“Mau ngomong apa ya, kan pemerintah sudah hapal di Desa Leuweunghapit ini banjir setiap tahunnya. Seharusnya pejabat pemangku kebijakan cepat tanggap. Usulan dan permohonan sering di ajukan, tapi hasilnya zonk alias nihil,” kata Kades Didi dengan nada santai.
Untuk mengatasi banjir di Blok Cikamangi ini, satu satunya jalan tanggul permanen harus segera di bangun. Minimal tanggul permanen tersebut segera dibangun panjangnya sekitar sampai ujung permukiman warga.
“Syukur syukur tanggul permanen tersebut sepanjang Sungai Cikamangi. Karena kalau tidak segera dibuat tanggul permanen, maka selama itu pula banjir akan tetap melanda,” pungkas Didi.
Pantauan FC, banjir yang terjadi pada Senin malam itu merendam ratusan hektar sawah yang berada di empat desa, yakni di Desa Leuweunghapit, Ampel, Bantarwaru dan area sawah Desa Sukawera Kecamatan Ligung serta area sawah Desa Lojikobong Kecamatan Sumberjaya. (Munadi)






































































































Discussion about this post