KOTA CIREBON, (FC).- Keraton Kasepuhan Cirebon kembali menggelar tradisi Rajaban untuk memperingati peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW.
Tradisi sakral yang telah berlangsung turun-temurun itu dilaksanakan secara khidmat di Bangsal Pringgadani Keraton Kasepuhan, Cirebon, Jumat (16/1/2026), dan diikuti keluarga besar keraton, para wargi, serta pinisepuh.
Patih Sepuh Keraton Kasepuhan Cirebon, Pangeran Raja Goemelar Soeryadiningrat, mengatakan peringatan Rajaban menjadi momentum penting untuk mengenang perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW pada 27 Rajab, yang menandai diwajibkannya salat lima waktu bagi umat Islam.
“Hari ini kita bersama-sama memperingati bulan Rajab atau Isra Mikraj. Ini adalah sejarah perjalanan spiritual Baginda Rasul Nabi Muhammad SAW. Karena itu, seluruh keluarga keraton, para wargi, dan para pinisepuh hadir untuk memperingatinya bersama-sama,” ujar Pangeran Raja Goemelar.
Ia menjelaskan, pelaksanaan Rajaban tahun ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya digelar di Langgar Alit Keraton Kasepuhan, tahun ini kegiatan dipusatkan di Bangsal Pringgadani seiring meningkatnya jumlah masyarakat yang hadir.
“Biasanya di Langgar Alit, tetapi karena yang hadir semakin banyak, maka tahun ini kita laksanakan di Bangsal Pringgadani supaya semua bisa mengikuti dengan baik,” katanya.
Rangkaian tradisi Rajaban diisi dengan ceramah keagamaan yang mengulas makna dan hikmah peristiwa Isra Mikraj, kemudian ditutup dengan doa bersama.
Melalui peringatan itu, Patih Sepuh mengajak umat Islam untuk terus mengingat dan mengamalkan amanah besar yang diterima Nabi Muhammad SAW, yakni perintah menegakkan salat lima waktu.
“Sebagai umat muslim, kita jangan sampai melupakan Isra Mikraj, karena di situlah perintah salat lima waktu diturunkan sebagai kewajiban utama,” tegasnya.
Selain prosesi doa dan ceramah, tradisi Rajaban di Keraton Kasepuhan juga identik dengan penyajian nasi bugana. Hidangan tersebut disajikan bersama lauk pauk sederhana seperti kentang, tahu, tempe, serta parutan kelapa, yang sarat makna filosofis.
“Maknanya sebetulnya adalah ungkapan rasa syukur kita kepada Allah SWT, dengan menyajikan hidangan sebagai bentuk kebersamaan dan doa,” pungkas Pangeran Raja Goemelar. (Agus)











































































































Discussion about this post