Untuk itu, lanjut dia, dalam menangani orang dengan status tanpa gejala, pihaknya kembali menggerakan RT/RW dan kepala desa se-Kabupaten Majalengka. Mereka berada di garda terdepan yang paling tahu persis kehadiran orang-orang yang datang dari luar daerahnya tersebut.
Disamping itu, pihaknyapun selalu melakukan kajian-kajian atas arahan dari Presiden, Mendagri, terutama Gubernur yang secara langsung memberikan arahan-arahannya untuk bagaimana para kepala daerah tersebut menjaga daerahnya secara fulltime agar tidak terjadi lonjakan kasus yang tidak terkendali.
“Kamipun melakukan pendekatan persuasif dan partisipasif, yang dari awal kita sudah mengajak semua komponen masyarakat melalui struktural kewilayahan, pendekatan kemitraan. Selain itu, kami juga selalu mengintensifkan pergerakan monitoring kelapangan dengan telah dibentuknya tim gerak cepat di tiap kecamatan yang bertugas terus mengantisipasi dan mendeteksi dini kehadiran orang dari luar dengan langsung dilakukan rapid test atau swab guna memastikan orang tersebut bebas dari virus meresahkan ini,” katanya.
Bupati menbahkan, mengenai gerakan sejuta makser tahap 2 ini, telah terkumpul sebanyak 3.130.432 masker, yang dihasilkan dari APBD, Dana Desa, serta dari gerakan pihak ketiga, seperti dari dana CSR, dari OPD, anggota Dewan, perusahaan-perusahaan, dan juga dari PKK.
“Seperti Pak Gubernur katakan, bahwa memakai masker sama dengan lock down. Oleh karena itu, dengan gerakan masker ini. diharapkan dapat mengurangi atau memutus mata rantai penyebaran Covid-19,” pungkasnya. (Ibnu)
















































































































Discussion about this post