KAB. CIREBON, (FC).- Hari Kartini di tengah pandemi Covid-19, perempuan di tuntut mengambil banyak peran dan aktif di tengah masyarakat serta keluarga. Selain itu, tugas sebagai guru di rumah bagi sang buah hati dengan menjawab pertanyaan sang anak saat mengerjakan tugas sekolah di rumah membuat peran perempuan begitu penting dimana saja.
Menurut Kepala Program Pendidikan (Kaprodi) Ilmu Komunikasi sekaligus Dosen Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC), Ida Ri’aeni, makna Hari Kartini adalah simbol keadilan. R.A Kartini yang banyak berkiprah dalam mendapat keadilan pendidikan, pengetahuan, juga peran perempuan di berbagai bidang yang di masa lalu sulit di dapatkan.
“Tahun ini, dunia terkena pandemi Covid-19 dan dialami pula oleh Indonesia. Perayaan Hari Kartini tahun ini, memacu kita para perempuan untuk tetap berkarya di tengah keterbatasan akses dan lainnya,” jelasnya kepada FC.
Kemudia Uun Machsunah sebagai Akademisi Universitas Muhammadiyah Cirebon mengatakan, sekarang saat teknologi makin masif dan perempuan oleh dunia di berikan keleluasaan untuk menjadi apapun yang di inginkannya, tentu saja itu merupakan pilihan yang mudah semestinya, yang penting ada kemauan belajar dan mengejar cita-cita, tak ada batasan antara laki-laki dan perempuan.
“Jika dulu perempuan aktifitasnya hanya ranah privat, seperti di dapur, kasur dan sumur, kini perempuan bebas memilih karir dan profesi di ranah publik. Ingin menjadi guru, dosen, dokter, insinyur, atau pekerjaan formal lainnya, tak ada batasan untuk perempuan saat ini,” tukasnya.
Selain itu, Ririn Risnawati selaku dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Cirebon berharap, agar kaum kartini masa kini tidak menjadi feminis yang mengarah pada ‘lupa dengan kodratnya’, juga tidak larut dalam arus perkembangan teknologi, westernisasi atau globalisasi yang lewat jalur, tetapi tetap realistis.
“Sebenarnya bukan hanya westernisasi sih, tapi sekarang kan ada halyunisasi. Nah, terkadang jadi tidak realistis anak-anak atau remaja perempuan sekarang ini. Termasuk dampak media, sinetron atau film menjadikan remaja atau perempuan sekarang cenderung menginginkan kehidupan yang di perlihatkan,” ungkapnya.
Menjadi perempuan tidak cukup hanya sekedar mempunyai wajah yang rupawan, gaya hidup dengan sosialita yang tinggi, tetapi harus menghalalkan segala cara.
“ Kartini masa kini harus bisa menjadi pendobrak bagi generasi milenial, kecerdasan adalah modal utama bagi perempuan untuk mengangkat derajat dan martabatnya,” ucapanya. (Indah)












































































































Discussion about this post