KOTA CIREBON, (FC).- IAIN Syech Nur Jati Cirebon melakukan wisuda, sebanyak 529 mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) pada Rabu (24/3), di sebuah hotel di Jalan Cipto, Kota Cirebon.
Rencananya juga ditempat yang sama pada Kamis (25/3) besok, sebanyak 158 mahasiswa dari Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam (FSEI), 139 mahasiswa Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD), serta 101 mahasiswa program Pascasarjana, juga akan mengikuti wisuda.
Berbeda dengan wisuda sebelumnya yang digelar secara online, wisuda kali ini digelar offline alias tatap muka langsung, namun tetap mengikuti protokol kesehatan yang ketat.
Rektor IAIN Syekh Nurjati Cirebon H.Sumanta Hasyim mengucapkan selamat kepada ratusan wisudawan tersebut. Ia berharap para wisudawan bisa berkiprah di tengah masyarakat.
Dalam sambutannya, Sumanta memaparkan tentang transformasi kelembagaan IAIN Cirebon.
Integrasi sangat diperlukan dalam pendidikan sebagai upaya untuk memadukan ilmu agama dengan ilmu umum.
“Dan dalam pengimplementasiannya, proses integrasi ilmu agama dan ilmu umum harus mampu menawarkan muatan nilai kearifan budaya lokal yang merupakan bagian dari nilai-nilai Islam yang universal. Hal tersebutlah yang kemudian menjadi spirit transformasi kelembagaan IAIN Syekh Nurjati Cirebon,” tuturnya.
Menurutnya, dalam mewujudkan hal tersebut, IAIN Syekh Nurjati Cirebon mengupayakan rekonstruksi paradigma keilmuan yang multidisipliner dengan menjadikan agama sebagai basis ilmu pengetahuan.
“Tujuannya, IAIN Syekh Nurjati Cirebon mampu mengembangkan bukan sekedar proses pendidikan searah, tetapi proses pendidikan multidimensi yang mampu menyeimbangkan antara akal dan wahyu sehingga mampu mewujudkan pengembangan spiritual, intelektual, dan sosial dari seluruh sivitas akademika IAIN Syekh Nurjati Cirebon,” katanya.
Oleh Karena itu, tambah Sumanta, transformasi kelembagaan IAIN Syekh Nurjati Cirebon menjadi UIN harus dibarengi dengan semangat pembangunan lembaga pendidikan integratif.
“Selanjutnya, proses integrasi keilmuan di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dapat dirumuskan dengan mengedepankan tiga aspek yaitu turats, manhaji, dan ma’rifah/nadzariyah. Pada tataran implementasi ketiga aspek tersebut harus mampu untuk saling melengkapi satu dengan yang lain,” ujar Sumanta.
Dengan konsep tersebut, menurutnya, seluruh rumpun dan kajian keilmuan yang ada diharapkan mampu bersinergi dan saling melengkapi pada tataran metodologis.
“Hal ini mampu dilihat bagaimana universitas menyahuti kebutuhan masyakarat serta mampu menjawab sebuah tantangan dengan basis keilmuan yang multidisipliner,” ujarnya.
Sumanta juga mengatakan, transformasi merupakan suatu perubahan secara kualitatif baik itu secara struktur, sifat dan bentuk.
Sehingga dalam konteks ini, proses transformasi kelembagaan IAIN Syekh Nurjati mendorong perubahan secara esensialistik untuk menuju universitas yang berbasis pada rumpun keilmuan yang terintergrasi dengan keilmuan yang lainnya.
“ Transformasi kelembagaan meniscayakan struktural dan perluasan akses pendidikan yang sedang dijalani. Sehingga akses pendidikan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat,” tandasnya. (Agus)




















































































































Discussion about this post