KAB.CIREBON, (FC).- Proyek pembangunan pagar pengaman lintasan rel kereta api menuai protes dari para petani. Pasalnya, sekitar 53 hektare lahan Blok Karangmangu Desa Babakan dan Desa Babakan Gebang Kecamatan Babakan Kabupaten Cirebon terisolir akibat akses jalan yang biasa digunakan petani ditutup pagar panel.
Salah seorang perwakilan petani, Tanda, kepada FC, Rabu (23/7) mengungkapkan, dirinya mewakili para petani di lahan sawah Blok Karangmangu Babakan, saat ini susah untuk menuju sawah mereka, akses jalan yang biasa digunakan para petani kini ditutup pagar panel.
Dirinya mengeluhkan, jika ingin ke lahan sawah, mereka harus berputar ke daerah Cimeong Desa Dompyong Wetan Kecamatan Gebang Kabupaten Cirebon, atau harus memutar sekitar 4 KM. Saat ini para petani ketika panen dan harus berputar sejauh 4 KM. Karena jauh, akhirnya petani lebih memilih hasil panen mereka diangkat satu persatu ke atas pagar panel.
“Kami meminta jangan semua dipagar, karena akses jalan satu-satunya para petani dipagar juga, kasihan para petani juga kerepotan menuju sawah mereka,” ungkapnya.
Sementara Kaur Ekbang Desa Babakan, Sanusi menjelaskan, diakuinya akses menuju lahan pertanian di Blok Karangmangu tidak ada lagi selain dari samping Stasiun Babakan, sedikitnya ada lahan pertanian milik warga Desa Babakan seluas 30,5 dan lahan aset Pemdes Babakan seluas 22,5 hektar, setelah akses jalan satu-satunya tersebut ditutup pagar panel, kini para petani mengeluhkan nasib mereka ke pemdes.
Menurutnya, awal pelaksanaan proyek pihaknya sudah memohon agar menyisakan akses jalan petani satu-satunya tersebut untuk tidak dipagar, para petani masih bisa keluar masuk lahan pertanian melalui akses jalan tersebut.
“Tapi, beberapa hari lalu akses jalan yang disisakan tidak dipagar tersebut, sekarang dipagar, sehingga para petani berteriak dan meminta ke pemdes agar disediakan akses jalan masuk,” ungkap Sanusi.
Disisi lain menurut Sanusi, pihak pemdes juga tidak bisa berkutik ketika harus membuat jalan baru, pertama karena tanah yang akan digunakan untuk akses jalan merupakan tanah milik petani, sehingga tidak mungkin mereka sukarela menyerahkan sawah mereka untuk jalan.
Selain itu, akses jalan baru juga hanya bisa melalui jalan menuju Desa Dompyong Wetan Kecamatan Gebang, atau harus memutar sejauh sekitar 4 KM, atas kondisi tersebut pihaknya hanya melalui jalan yang melintasi halaman stasiun, karena memang sudah sejak zaman dahulu akses jalan petani lewat jalan tersebut.
“Alhamdulillah setelah kita berkoordinasi dengan kepala stasiun akan meneruskan keluhan para petani tersebut ke Kepala Daop 3 Cirebon dan nanti surat permohonannya akan kita layangkan, semoga permasalahan ini segera terselesaikan, apalagi masih ada petani yang akan panen,” terangnya.
Terpisah, Manager Humas PT KAI Daop 3 Cirebon, Muhibbuddin menjelaskan, diakuinya saat ini PT KAI Daop 3 Cirebon secara bertahap tengah melakukan penataan untuk pengamanan lintasan dan sterilisasi stasiun, terkait dengan keluhan petani di wilayah Kecamatan Babakan pihaknya masih belum bisa memutuskan solusi untuk mengatasi masalah tersebut.
Rencananya apa yang menjadi keluhan petani di Babakan akan disampaikan ke rapat internal PT KAI Daop 3 Cirebon. “Kita belum tahu persis kondisi di lapangan seperti apa, mungkin kita akan berkunjung ke Stasiun Babakan melihat langsung di lapangan, intinya program kita ingin melakukan sterilisasi stasiun,” terangnya. (Nawawi)















































































































Discussion about this post