KAB. CIREBON, (FC).- Setiap Kabupaten/Kota memiliki permasalahan kesehatan, salah satunya adalah frambusia. Frambusia adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri treponema pallidum pertenue.
Infeksi ini biasanya terjadi di negara wilayah tropis yang memiliki sanitasi buruk, seperti Afrika, Asia Tenggara, Amerika Selatan, dan Oceania.
Frambusia dikenal juga sebagai frambusia tropica atau patek. Penyakit ini bisa menular melalui kontak langsung dengan ruam pada kulit yang terinfeksi.
Pada awalnya, frambusia hanya akan menyerang kulit. Namun, seiring berjalannya waktu, penyakit ini juga dapat menyerang tulang dan sendi.
Namun, penyakit-penyakit tadi bisa dinyatakan hilang dari satu wilayah, yaitu dengan catatan telah dilakukan penilaian secara independen dari kementerian, istilahnya eliminasi dan penghapusan secara permanen atau eradikasi.
“Seperti yang sekarang kita lakukan kita ingin hilangkan di Kabupaten Cirebon adalah penyakit frambusia atau penyakit kulit,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, Sartono, Kamis (8/12).
Artinya, lanjut Sartono, kalau frambusia bisa ditangani secara baik, kemudian sudah terverifikasi hitam di atas putih, Kabupaten Cirebon bisa dinyatakan selesai dalam penanganan penyakit-penyakit tersebut.
Apalagi, aku Sartono, karena hingga tahun 2022 di daerah ini sudah tidak ditemukan kasus, atau ditemukan kasus tetapi dengan jumlah yang sangat kecil dibandingkan jumlah penduduk.
“Pantauan kita dalam tiga tahun ke belakang, sulit menemukan kasus frambusia. Kalaupun ada juga tidak banyak, hanya diduga tapi hasilnya negatif,” ungkap Sartono.
Menurutnya, frambusia itu disebabkan karena faktor lingkungan, atau kebiasaan hidupnya tidak bersih. “Kuncinya memang PHBS sebenarnya,” imbuhnya.
Diakuinya, tahun ini pihaknya menemukan sejumlah 5 kasus yang mirip dengan frambusia, namun setelah dilakukan Rapid Diagnostic Test (RDT) hasilnya negatif. Menurutnya, pihaknya belum menemukan kasus itu sampai taraf cacat.
“Penyakit itu cenderung pada area terbuka seperti tangan, kaki. Atau yang tertutup, karena lembab,” katanya.
Pihak Kementerian Kesehatan dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengunjungi Puskesmas Ciledug, pasalnya Puskesmas Ciledug merupakan salah satu puskesmas yang secara manajemen bagus penanganannya.
Menurutnya, bukan penanganan kasus, akan tetapi upaya deteksi dininya, upaya pencarian kasusnya, pedoman pengelolaan kasusnya bagus, termasuk pemberdayaan masyarakatnya juga bagus.
“Harapannya, pertama secara sah dan meyakinkan kita menyatakan diri sebagai daerah yang bebas trambosia. Kedua, kehadiran Kemenkes tentu menjadi sebuah legalitas, pengakuan secara nasional, bahwa Kabupaten Cirebon sudah tidak lagi bermasalah dengan frambusia. Ketiga, memang tahun kemarin untuk frambusia itu kan lumayan bergengsi. Bahkan penyerahannya di Mandalika, semua ke sana. Tahun ini kita ngajuin. Harapanhya bebas. Jadi kita bisa fokus pada penyakit yang lain,” pungkasnya. (Ghofar)















































































































Discussion about this post