MAJALENGKA,(FC), – Kabar duka menyelimuti calon jemaah haji (CJH) Indonesia. Salah seorang jemaah haji asal Majalengka meninggal dunia di Makkah Arab Saudi, Rabu (29/6) pukul 07.00 waktu Makkah.
Sebelum tutup usia, almarhum sempat mendapatkan pertolongan pertama dari dari tenaga medis di kloter JKS 11, petugas haji dan jemaah di dalam kelompok rombongan tersebut.
Tidak ada riwayat penyakit yang di deritanya, baik selama pemeriksaan ketika pemberangkatan atau saat berada di Tanah Suci. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, korban sempat merasakan sakit di bagian dada.
Rasa sakit itu dirasakan dari kemarin sore, dan puncaknya usai melaksanakan salat subuh berjamaah di musala maktab (hotel) tempat menginap.
Usai salat subuh, almarhum berjalan menaiki lift, dengan tangan memegang dada yang terasa sesak. Tiba di kamar, korban menyimpan peralatan salat dan duduk di lorong edifice sambil meraung-raung rasa sakitnya kian terasa.
Hingga akhirnya korban hendak ke kamar, namun terjatuh di bawah lantai dengan posisi badan telentang.
Seketika itu pula jemaah yang melihat langsung memberikan pertolongan pertama. Dengan langsung menghubungi dokter maupun paramedis Kloter 11 Jakarta-Bekasi (JKS) dr. Indah Komala Sakti dan perawat Munik Yeni, yang kamarnya tidak berjauhan.
Tak hanya itu pula para petugas haji kloter pun turun tangan, baik Ketua TPIHI, H Faizal Fikri, Ketua Kloter H Abdul Aziz dan TPHD Jejep Falahul Alam.
Suasana panik pun menyelimuti semua orang yang berusaha memberikan pertolongan pada almarhum. Dokter Indah terus menekan bagian jantung dan memeriksa tubuh kesehatan, para petugas haji memegang tangan almarhum, serta para jemaah pun sama mengangkat kedua kakinya.
Tak lupa doa-doa kalam ilahi menggema saat itu. Dalam kondisi itu pula, sempat dua kali korban terlihat kehilangan nafas. Hal itu terlihat jelas dengan kedua bola matanya yang mulai membesar serta pergelangan tangannya mulai terasa dingin. Seperti halnya orang yang telah tiada.
Namun semuanya yang hadir terus mengulurkan tangan dengan cara memijit seluruh bagian tubuh. Termasuk memasukan ke mulutnya sudi pelidah, untuk membebaskan jalan napas. Tujuannya agar lidah tidak masuk ke tenggorakan dan merangsang saraf lainnya agar bereaksi. Aksi heriok itu pun membuahkan hasil. Korban kembali siuman dan bernafas.
Di kala panik, dr. Indah dan perawat Munik berulangkali meminta bantuan melalui ponselnya ke tenaga medis di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) daerah kerja (Daker) Makkah, yang berkumpulanya para dokter spesialis. Upaya itu tidak langsung direspon oleh pihak KKHI.
Akan tetapi seiring komunikasi itu akhirnya tibalah tim KKHI membawa kursi roda ke lantai 11, ke maktab 505 Misfalah, lokasi korban sakit. Ia langsung dilarikan ke KKHI ditemani dr. Indah Komala Sakti bersama tim medis lainnya.
Sebelum berangkat korban mulai sadar dan mengenali apa yang diingatnya. Ketika itu ditanya terkait sarung disimpan di mana agar dibawa ke KKHI. Ia pun memberi tahu mengenai lokasinya. Tujuan pertanyaan itu untuk mengetahui tingkat kesadaran dan kondisi korban.
Namun sayang, tak lama ketika tiba di rumah sakit dan langsung mendapatkan penanganan dari pihak medis. Rasa sakit kembali menggigil sekujur tubuhnya. Akhirnya nyawa korban tidak tertolong. Identitas korba bernama Anta Misda Jiam, tinggal di Desa Haurgeulis Kecamatan Bantarujeg Kabupaten Majalengka. Ia masuk rombongan satu, regu dua. Bermaktab 38 (505), kamar 1110. Profesinya sebagai kepala sekolah SDN Gunung Larang Kecamatan Bantarujeg dan usianya baru 58 tahun.
Saat di rumah sakit istri korban tampak terpukul melihat kepergian suaminya untuk selama-lamanya. Air matanya terus membasahi sekujur tubuhnya. Ia tampak terus memegang jenasah suaminya itu dan merasa tak percaya atas kenyataan pahit yang dialaminya.
“Sejak kemarin suami saya merasakan sakit di bagian dada, keluhan itu dikemukakan ketika saya hendak salat ashar di Masjidil Haram. Nah, saat saya tanya kembali waktu malam sudah mendingan. Lalu saya paginya salat subuh lagi di Masjidil Haram dan suami saya salat di musala hotel. Saya baru tahu pulang dari masjid ketika suami kembali merasakan sakitnya,” ucapnya.
Ketua Karom 11 H Dodo menyebutkan, sebenarnya almarhum sempat merasakan sakit serupa ketika berada di Bandara Soekarno Hatta beberapa jam sebelum keberangkatan ke Tanah Suci. Namun saat itu dirinya dan jemaah yang lainnya langsung memberikan pertolongan pertama dan akhirnya sembuh. “Almarhum tinggal sama saya satu desa, saya tidak menyangka jika Pak Anta bisa secepat itu meninggalkan kita semua. Padahal usianya masih terbilang muda dan masih terlihat sehat walafiaat,” tukasnya.
Rasa belasungkawa pun datang dari petugas kesehatan. Munik mengaku merasa belum percaya ketika waktu pagi bersama Dokter Indah terus memberikan pertolongan pertama. Rasa tanggung jawabnya pun terlihat jelas pada jemaah terlihat saat melakukan penangangan kepada almarhum.
“Kami sudah berupaya maksimal, namun nyawa korban tidak tertolong setelah kami bawa ke KKHI di Daker Makkah,” kata dr. Indah Komala Sakti .
Menurut dia, dari hasil pemeriksaan sendiri almarhum tidak termasuk dari 30 orang calhaj yang memiliki resiko tinggi (risti) atau memiliki riwayat penyakit yang diidap jemaah sebelum berangkat ke Tanah Suci. “Kalau sejak awal pemeriksaan yang dilakukan tim kementerian kesehatan selama tiga lapis, almarhum sehat. Namun diduga karena serangan jantung, nyawa almarhum tidak tertolong,” paparnya.
Dia sendiri sudah memberikan pertolongan saat berada di pemondokan (hotel) dan mendampinginya hingga ke rumah sakit yang ada di Makkah. Terkait urusan jenasah nanti pihak KKHI akan berkoordinasi dengan pihak terkait di Makkah. “Saat dibawa ke KKHI, saya bersama istri korban yang turut mendampingi menaiki ambulan. Namun sayang almarhum meninggal dunia,” tuturnya.
Ia pun mengingatkan para jemaah agar selalu menjaga kesehatan dalam melaksanakan ibadah haji. Sebab ibadah dalam kondisi tidak acceptable akan mempengaruhui dalam kekhusuan dan kenyamanan seorang hamba. Para jemaah pun diminta jangan terlalu banyak menguras energi, agar nanti dalam puncak ibadah haji pada pelaksanaan ibadah di Arofah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna) masih tetap dalam kondisi prima dan tidak sakit.
Armuzna sendiri merupakan puncak ibadah haji, di mana pada fase Armuzna dipenuhi degan ritual ibadah yang memerlukan kondisi kesehatan yang baik. Untuk menjaga kondisi jemaah, diminta kepada semua petugas agar melakukan skrining ulang dan aesculapian check-up bagi seluruh jemaah.
Tim Pembimbing Ibadah Haji H Faizal Fikri menuturkan, petugas sudah melaporkan peristiwa meninggalnya ini ke pihak Sektor dan Daker Makkah Haji Indonesia dan sudah ditindaklanjuti untuk proses selanjutnya. Kondisi jenasah tersenyum, insya Allah khusnul khotimah, apalagi meninggal dunia di Tanah Suci.
“Mengenai urusan jenasah almarhum itu, semua diambil alih oleh pihak Maktab, baik itu memandikan, mengkapani, menshalatkan dan dikuburkan. Namun sebelum dimakamkan jenasah dibawah ke Masjidil Haram untuk disalatkan,” katanya.
Mengenai proses haji selanjutnya, lanjut dia, almarhum sudah melaksanakan ibadah umroh tinggal rukun haji lainnya. “Karena puncak haji baru akan dilaksanakan pada 8 Dzulhijjah 1443 H, maka haji almarhum akan dibadalkan oleh petugas haji. Sehingga nanti almarhum tetap akan menyandang gelar haji, karena nanti akan ada petugas yang menggantinya,” jelasnya. (Rls)















































































































Discussion about this post