KOTA CIREBON, (FC).- Pemerintah melalui Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi, telah resmi mencabut kebijakan harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng kemasan.
Hal tersebut ditandai dengan keluarnya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 11 Tahun 2022.
Terbitnya Permendag yang baru ini, sekaligus mencabut Permendang Nomor 06 tentang harga eceran tertinggi minyak goreng.
Kebijakan mencabut kebijakan HET minyak goreng, menyusul adanya kelangkaan yang terjadi belakangan ini. Dengan demikian, HET minyak goreng dipastikan naik.
Berdasarkan aturan terbaru, kini harga minyak goreng kemasan diserahkan terhadap mekanisme pasar. Artinya, harga minyak goreng tidak lagi mengikuti HET yang sebelumnya berlaku, yakni sekitar Rp14.000-Rp15.000. Akibat penerapan aturan tersebut, harga minyak goreng di sejumlah kota melambung tinggi.
Dengan demikian, penjualan minyak goreng curah kepada konsumen wajib mengikuti HET curah, Di mana konsumen dimaksud adalah masyarakat serta usaha mikro dan usaha kecil.
Harga minyak goreng curah akan disubsidi oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).
Pemerintah juga mencabut kebijakan domestic market obligation (DMO) yang diganti dengan menaikkan pungutan ekspor agar stok minyak goreng tidak lari ke luar negeri.
Beleid terkait pencabutan DMO masih diharmonisasi dan akan segera diundangkan pada hari ini juga.
Sementara itu, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Cirebon melakukan inspeksi mendadak (sidak) minyak goreng di sejumlah swalayan dan juga minimarket pada Kamis (17/3).
Tim menemukan beberapa komoditas yang mengalami kenaikan atau di atas HET.
Menurut Ketua TPID yang juga Sekda Kota Cirebon Agus Mulyadi, saat kami melakukan inspeksi ketersediaan minyak goreng di sejumlah swalayan dan mini market, terdapat komoditas yang mengalami kenaikan harga di atas HET.
“Dalam sidak tadi, memang ada sejumlah harga komoditas yang di atas harga eceran tertinggi. Misalnya gula sudah ditetapkan HET oleh pemerintah Rp13.500 dan ternyata ada harga di atas itu. Dan kami meminta kepada pengelola untuk bisa menyesuaikan dengan HET,” ujarnya.
Sedangkan komoditas yang lain, lanjut pria yang akrab disapa Gusmul ini, seperti telur ayam masih stabil, bahkan cenderung turun.
Dia berharap, harga tersebut bisa dijaga menjelang Ramadan sampai Hari Raya Idul Fitri mendatang, tujuannya agar inflasi dan daya beli masyarakat tetap bisa terjaga.
Pihaknya juga berencana akan melakukan operasi pasar khusus minyak goreng dan komoditas lainnya. Namun, ada surat dari Kementerian Perdagangan, yang menyakan agar untuk operasi pasar minyak goreng agar dihentikan dulu.
Hal ini dimaksudkan, agar mekanisme pasar yang bekerja dan pihaknya akan memperhatikan dulu, kebutuhan pokok masyarakat apa saja yang naik harganya.
baru operasi pasar digelar. Dimungkinkan pada jelang Ramadan operasi pasar akan dibuka.
“Kemudian, untuk pengawasan minyak goreng curah, pihak operator PPI (Perusahaan Perdagangan Indonesia) dan dinas teknis yang akan melakukan pengawasan. Baik ketersediaan maupun harganya,” imbuhnya.
Sementara Kapolres Cirebon Kota, AKBP M. Fahri Siregar mengatakan, dari beberapa tempat yang dilakukan sidak, stok masih belum tersedia.
“Berdasarkan informasi dari pengelola minimarket tadi pengiriman memang 2 hari sekali, memang akan datang malam ini ataupun besok,” katanya.
Fahri memaparkan, toserbapun stok masih tersedia, namun untuk harga masih diserahkan kepada mekanisme pasar.
“Memang harga minyaknya bervariasi, dan masih cenderung mahal, hal ini dikarenakan adanya relaksasi dari kementerian,” lanjutnya.
Pihaknya juga terus berkoordinasi dan juga mengontrol pendistribusian minyak goreng kepada masyarakat.
“Dua hari lalu kita kan tahu harga minyak curah Rp10.500 menjadi Rp14.000, memang tugas kita untuk melakukan pengawasan agar stok minyak goreng tersedia di pasaran,” ungkapnya.
Fahri juga akan memerintahkan tim auditnya untuk melakukan pengawasan terhadap distrubutor untuk segera mengirimkan minyak gorengnya.
“Terlebih saat ini menjelang Bulan Ramadan jadi stok harus mencukupi, karena permintaan akan naik,” ungkapnya.
Store Manager Toserba Surya Yanto menjelaskan, hari pertama dengan harga normal,hanya mendapat 150 karton. Padahal sebelum mendapat jatah 300 karton. “Jatah kami tidak banyak sejak tidak ada HET,” terangnya.
Sementara Salah seorang kepala toko mini market yang enggan namanya disebutkan mengatakan, pihaknya menjual minyak goreng dengan harga Rp44 ribu per 2 liter, dan Rp26 ribu per liter.
Terkait pengiriman, pihaknya mendapat jatah setiap dua pekan sekali, dengan jumlah yang tidak tetap. “Untuk saat ini stok kosong sejak 2 hari lalu, karena kosong dari gudangnya,” tutupnya. (Agus/Sakti)

















































































































Discussion about this post