MAJALENGKA, (FC).- Bulan Ramadan, selain berkah untuk meraih ampunan, juga berkah untuk memperoleh rezeki. Tak heran jika banyak bermunculan pedagang dadakan.
Setiap sore hingga menjelang magrib, di berbagai daerah akan terlihat deretan pedagang yang menawarkan makanan takjil untuk berbuka puasa.
Minuman es adalah salah satu dagangan yang marak ditemukan di berbagai daerah.
Pemandangan tersebut akan semakin mudah terlihat di titik-titik yang menjadi pusat keramaian, atau pinggir jalan.
Hal itu seperti terlihat di Jalan KH Abdul Halim, tepatnya di sebelah Utara alun-alun Majalengka.
Di lokasi ini, akan mudah ditemukan makanan takjil, dari mulai Es, Sosis, Batagor, dan Takjil-takjil lainnya.
Keramaian para pedagang di sini sudah terlihat sekitar pukul 16.00 WIB atau setelah bada ashar.
Bukan tanpa alasan, mereka memilih berdagang di sekitar alun-alun ini.
Dengan lokasi yang cukup strategis, dagangan mereka akan mudah terlihat oleh masyarakat luas, khususnya mereka yang melintas di jalan utama itu.
Herik Diana, salah satu Pedagang Es di sekitar Alun-alun Majalengka, mengaku, dalam waktu yang relatif singkat, dari mulai pukul 16.00-21.00 WIB, dirinya sudah mengantongi uang sekitar Rp400 – Rp500 ribu.
Padahal, di Majalengka masih kerap turun hujan. “Mulai buka jam 4, paling malam sampai jam 9. Ya, sejak hari pertama puasa, bisa dapat sekitar Rp 400 ribu,” ujar Herik saat berbincang dengan wartawan, di sela-sela menunggu pembeli, Minggu (10/4).
Biasanya, ia mengaku hanya mendapatkan kurang dari itu.
Apalagi ditambah cuaca hujan kerap terjadi di Majalengka. Yang mana membuat dagangannya kurang laku dibeli.
“Sebelum puasa mah paling Rp 100 ribu atau Rp 200 ribu lah,” kata dia.
Kendati masih di awal-awal ramadan, dia juga mengaku, pembeli sudah mulai banyak berdatangan.
Terlebih, para pengendara kendaraan roda dua maupun roda empat yang melintas.
“Banyaknya yang melintas, karena memang lokasi ini strategis untuk mereka membeli, tidak usah turun dari kendaraan, bisa beli untuk buka puasa di jalan,” ucapnya.
Disinggung apakah ada petugas yang memberi teguran terkait aktivitas berdagang,
Herik mengaku, hingga hari ke empat puasa, tidak ada. “Nggak ada,” jelas dia.
Sementara, pantauan wartawan di lokasi, kendati di sekitar alun-alun, mereka tidak menggunakan trotoar untuk menjajakan barang dagangannya. Gerobak mereka terlihat berjejer di pinggir jalan, tanpa memakan trotoar.
Lingkungan alun-alun sendiri sejatinya menjadi tempat terlarang untuk aktivitas berjualan. Di beberapa titik terlihat papan pengumuman terkait larangan itu.
Dalam papan pengumuman itu tertulis, dilarang berjualan sesuai Perda nomor 10 tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ketertiban Umum, Ketentraman dan Perlindungan Masyarakat. (Munadi)















































































































Discussion about this post