KUNINGAN, (FC).- Berawal dari keberanian berbeda dari petani lainnya, seorang pemuda petani di Desa Sukamukti, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Setiabudi alias Bopak, sukses mengubah kebun bunga menjadi Kedai Saung Lumbung, ruang kreatif desa yang memadukan pertanian, wisata, dan kuliner.
Di tengah mayoritas warga yang menanam sayuran, Bopak justru memilih menanam bunga. Langkah ini dilandasi keyakinan bahwa potensi alam Sukamukti sangat besar jika dikelola secara kreatif.
“Desa Sukamukti ini potensi alamnya sangat bagus, mayoritas petani menanam sayur. Saya punya inisiatif menanam bunga, karena bunga identik dengan perempuan. Ketika bunga mekar, mereka otomatis datang berkunjung,” ujar Bopak.
Pada awal merintis, usahanya sempat tersendat karena belum memiliki pasar. Namun ia tetap bertahan hingga kebun bunganya mulai dikenal.
“Awalnya tidak jalan karena belum punya pasar jual. Tapi lama-lama, ketika orang lain menanam sayur, kami menanam bunga. Ternyata saat bunga mekar, banyak yang datang,” katanya.
Ramainya pengunjung membuat Bopak membuka warung kecil untuk melayani tamu yang ingin menikmati kopi dan makanan ringan di tengah suasana sawah.
“Karena banyak yang pesan kopi dan cemilan, akhirnya kami buka warung kecil,” ungkapnya.
Dengan konsep sederhana, Bopak membangun Saung Lumbung berupa gazebo menyerupai tenda dome dari bambu, plastik, dan kain.
Pengunjung disuguhi panorama persawahan yang sejuk, aliran sungai yang menenangkan, serta hamparan bunga yang memanjakan mata.
Bunga yang dibudidayakan adalah bunga pikok. Selain mempercantik kawasan, bunga ini menjadi komoditas utama yang dipasarkan ke komunitas dekorasi.
“Bunga pikok kami jual ke komunitas dekor. Kadang ada juga yang pesan dibuatkan bucket bunga untuk oleh-oleh atau kenang-kenangan,” jelasnya.
Dalam setahun, bunga pikok dapat dipanen hingga tiga kali hanya dengan satu kali tanam, dengan perawatan berkelanjutan.
“Setelah panen kami tambah pupuk dan obat, supaya bisa panen lagi,” ucapnya.
Lahan yang digunakan merupakan tanah kas desa dengan sistem sewa. Total luas lahan sekitar 2100 meter persegi, dengan 1400 meter persegi khusus kebun bunga.
“Dari 1400 meter persegi, hasil panen bunga pikok bisa mencapai sekitar Rp15 juta sekali panen,” ungkap Bopak.
Usaha yang telah berjalan sekitar tiga tahun ini kini berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi desa.
Kedai Saung Lumbung menyediakan berbagai menu dengan harga ramah kantong, mulai Rp2.000 hingga Rp15.000.
Menu yang tersedia antara lain kopi sachet, kopi tubruk, seblak, serabi dengan berbagai varian, risol mayo, cireng isi, tahu gejrot, pempek, nasi goreng, hingga nasi liwet.
Tak hanya mengejar keuntungan, Bopak juga ingin usahanya berdampak sosial bagi warga sekitar.
“Kami ingin memberdayakan masyarakat di sini. Hanya saja lahan masih terbatas. Kalau lahannya lebih luas, kami ingin berkolaborasi dengan warga,” katanya.
Saung Lumbung buka setiap hari. Pada hari biasa (weekday) buka pukul 10.00-20.00 WIB, sedangkan akhir pekan (weekend) buka pukul 10.00-21.00 WIB.
Dengan konsep pertanian kreatif berbasis wisata, Kedai Saung Lumbung kini menjadi bukti bahwa inovasi dari desa mampu melahirkan peluang ekonomi baru di Kabupaten Kuningan.(Angga)











































































































Discussion about this post