KOTA CIREBON, (FC).- Di awal pandemi Covid-19 banyak yang kelabakan dengan berbagai program daring. Sekarang platform Zoom Meeting, Google Class Room, Google Meet, Microsoft Teams dan sebagainya telah menjadi keseharian, jadi tidak banyak lagi yang merasa kesulitan.
Semua menikmati berbagai nilai tambah yang diberikan dari kondisi yang semula dipaksakan, namun perlahan telah menjadi kebiasaan baru. Berdasarkan hasil survei tentang evaluasi pembelajaran jarak jauh yang dilakukan oleh Ditjen Dikti Kemendikbud, 90 persen mahasiswa lebih memilih kuliah luring (luar jaringan) atau tatap muka di kelas, dibandingkan dengan kuliah dalam jaringan (daring) atau kuliah online.
Hal tersebut disebabkan, karena mahasiswa tidak siap dalam melaksanakan kuliah daring, salah satunya yang paling umum adalah kendala jaringan. Karena sudah terlalu lama pembelajaran melalui daring, memang banyak mahasiswa yang ingin merasakan bagaimana perkuliahan di lingkungan kampus.
Namun, tidak menutup kemungkinan tidak sedikit pula mahasiswa yang sudah merasa nyaman dengan sistem perkuliahan daring.
IAIN Syekh Nurjati Cirebon yang pernah mengalami hal tersebut terkendala karena adanya pandemi Covid-19.
Pada tahun ajaran baru 2022/2023, mulai diberlakukanya pembelajaran lewat offline. Dikarenakan pandemi Covid-19 sudah melandai, hal ini tidak menutup kemungkinan pembelajaran offline ini berlaku untuk mahasiswa yang baru masuk saja .
Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam, Rani Ika Wajayanti menyampaikan, perkuliahan sudah kembali seperti semula, yaitu secara tatap muka.
Namun dengan sistem yang sudah disepakati, khususnya di Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam. Hal ini juga perlu adanya proses adaptasi, dari mahasiswa dalam menghadapi perubahan ini.
“Saya merasa senang dan bersyukur bisa tatap muka kembali. Karena sudah 2 tahun lebih dunia pendidikan terhalang pandemi Covid-19, ada sisi positif negative. Sisi positifnya karena kegiatan belajar mengajar lebih lancar, dan transfer ilmu juga lebih mudah dipahami oleh kalangan mahasiswa,” ucapnya, Kamis (1/9).
Senada dengan Rani, Dosen Filologi Jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Ushuludin dan Adab Fika Hidayani menuturkan, perkuliahan luring sebenarnya memiliki keuntungan lebih banyak.
Hal ini karena ia dapat berinteraksi langsung bersama mahasiswa dan dosennya. Dengan pembelajaran luring sendiri, penyerapan materi lebih mudah dipahami sehingga mengoptimalkan proses pembelajaran.
“Pembelajaran offline ada kekurangannya, seperti ketidaktersedian ruangan. Dan ini terkadang membuat mahasiswa membuat ingin kembali ke pembelajaran online,” ungkapnya.
Abdul Dzikrillah, salah seorang mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) IAIN Syekh Nurjati mengatakan, meski perkuliahan tatap muka ini berjalan, perkuliahan secara daring tetap dapat dilakukan.
“Diantara mahasiswa, banyak yang merasa antusias untuk segera kuliah offline, tetapi tidak sedikit juga yang merasa kurang siap dengan adanya hal tersebut,” imbuhnya.
Mahasiswa lainnya, Tauhid Awaludin menambahkan, di masa transisi seperti ini, ia merasa terkejut dalam proses adaptasi perubahan kegiatan belajar mengajar. Hal ini karena dirinya sebagai mahasiswa angkatan tahun 2020, perkuliahan yang diikutinya berlangsung dengan sistem daring.
Ia juga mengungkapkan, kendala yang dihadapi saat awal masuk merasa kebingungan mengenai ruangan-ruangan perkuliahan. Tauhid masih belum bersahabat terhadap kampus tempat belajarnya, karena selama pandemi Covid-19 ia hampir tak pernah masuk ruangan perkuliahan.
“Saya merasakan sudah nyaman dengan perkuliahan daring daripada tatap muka, karena lebih efektif dan lebih fleksibel tidak monoton,” pungkasnya. (Handoyo/Sayyid)















































































































Discussion about this post