Oleh: Imam Nur Suharno
Kepala Divisi HRD–Personalia Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat
Setiap tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Pada peringatan Hardiknas ini penulis mengangkat tema guru itu profesi yang menjanjikan sebagai sebuah refleksi.
Guru merupakan profesi yang paling mulia dan agung. Suatu profesi yang tak lekang oleh waktu. Saking mulianya kedudukan profesi guru, Ahmad Syauki, seorang penyair Mesir, pernah menyatakan bahwa guru itu hampir seperti seorang rasul. Mungkin itu terlalu berlebihan. Karena pada dasarnya antara rasul dan guru memiliki tugas dan peranan yang sama, yaitu mendidik, mengajar, dan membina umat.
Dalam surah Ali Imran [3] ayat 164 Allah SWT menegaskan tugas para rasul. Setidaknya ada tiga tugas pokok seorang rasul yang bisa dijadikan pegangan oleh guru, yaitu membacakan ayat-ayat Allah (at-tilawah); membersihkan jiwa (at-tazkiyah); dan mengajarkan Alquran (al-kitab) dan sunah (al-hikmah).
Selain itu, menjadi guru berarti memiliki peluang yang besar untuk mendapatkan amalan (profesi) yang pahalanya akan terus mengalir, yaitu dengan mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada siswa (HR Muslim).
Menurut Syekh Jamal Abdul Rahman, jika guru mampu mendidik siswa menjadi saleh maka hal itu akan masuk ke dalam ketiga kategori amalan (profesi) yang tidak akan putus pahalanya. Maksudnya, waktu dan tenaga yang disisihkan guru untuk mendidik siswa bisa menjadi sedekah jariyah.
Ilmu yang sampaikan kepada siswa akan menjadi ilmu yang bermanfaat. Dan, siswa yang dididik guru menjadi anak yang saleh, akan mendoakan dirinya, baik ketika guru masih hidup maupun sudah meninggal dunia.
Mengajar itu Ibadah
Manusia diciptakan untuk ibadah (QS adz-Dzariyah [51]: 56). Semua aktifitas yang dilakukan dalam rangka beribadah kepada-Nya, termasuk aktifitas mengajar (QS al–An’am [6]: 162-16). Karena mengajar adalah ibadah yang pahalanya akan terus mengalir, maka dalam menjalankan aktifitas mengajar selain Lillah, harus sesuai dengan apa yang diteladankan oleh Nabi SAW.
Pertama, mengucapkan salam. Ketika guru hendak masuk kelas mengucapkan salam kepada siswa, assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh (semoga seluruh keselamatan, rahmat dan berkah Allah dilimpahkan kepada kalian). Dan, Nabi SAW sangat menekankan kepada kita (guru) untuk menyebarkan salam (HR Ibnu Majah).
Dalam majelis ilmu, Nabi SAW mengajarkan agar mengucapkan salam di awal dan di akhir majelis. Jika salah seorang di antara kalian hendak mengakhiri suatu majelis, ucapkanlah salam. Jika ingin memulainya (suatu majelis tanpa salam), maka mulailah. Jika ingin berdiri (mengakhirinya), ucapkanlah salam. Tindakan pertama tidaklah lebih benar dibanding dengan tindakan terakhir. (HR Tirmidzi dan Abu Daud).
Kedua, berwajah ceria. Guru hendaknya menunjukkan wajah ceria setiap kali bertemu siswa, sebagaimana diajarkan oleh Nabi SAW, “jangan meremehkan sekecil apapun perbuatan baik, meski kebaikan itu berupa kamu berjumpa dengan saudaramu dengan wajah ceria.“ (HR Muslim dan Ahmad).
Ketiga, membaca pujian kepada Allah dan shalawat kepada Nabi. Setiap kali guru memulai pelajaran hendaknya diawali dengan membaca pujian dan shalawat. Misalnya, Alhamdulillahirabbil ’alamin, washshalatu wassalamu ’ala Muhammadin, wa’ala alihi washahbihi ajma‘in. Terkait hal ini, Nabi SAW bersabda, “Setiap perkara yang bermanfaat, jika tidak dimulai dengan pujian, maka perkara itu terputus (berkahnya).“ (HR Ibnu Majah dan Abu Dawud).
Keempat, jika guru hendak menulis di papan tulis, buatlah tulisan basmalah (Bismillahirrahmanirrahim) terlebih dahulu, agar kalimat itu yang pertama kali dilihat oleh siswa. Dengan demikian, siswa mengetahui bahwa setiap akan memulai aktivitas harus dimulai dengan membaca basmalah.
Dengan mengucapkan basmalah guru menyadari akan kekuatan dan pertolongan-Nya dalam setiap aktivitas yang dilakukan. Nabi SAW bersabda, “Setiap pekerjaan yang tidak dimulai dengan basmalah, maka tidak akan membawa berkah.“ (HR Ahmad dan Ashhab Sunan).
Kelima, setelah selesai pelajaran dan sebelum berpisah dengan siswa, hendaknya proses belajar mengajar ditutup dengan membaca hamdalah (Alhamdulillah) bersama-sama, lalu dilanjutkan membaca doa kafaratul majelis. Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu anla Ilaha illa Anta astaghfiruka wa atubu ilaik (Ya Allah Maha Suci Engkau dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau. Aku meminta ampunan-Mu dan aku bertobat kepada-Mu). Melalui doa tersebut kesalahan-kesalahan yang terjadi selama dalam proses pembelajaran akan mendapatkan ampunan dari Allah SWT.
Keenam, mengucapkan salam kepada siswa setiap hendak meninggalkan kelas. Sehingga doa keselamatan, rahmat dan keberkahan ini yang akan mengiringi setiap kali pertemuan dan perpisahan dalam proses belajar mengajar.
Doa Guru
Sebagai manusia, guru hanya dapat berusaha. Selebihnya, keputusan akhir tentang hasil usaha dalam proses pendidikan itu –siswa menjadi sukses, cerdas dan saleh– bergantung kepada Allah SWT. Sikap terlalu yakin dengan kemampuan diri hingga mengabaikan-Nya akan membuatnya kehilangan kekuatan jiwa.
Mendidik adalah menyentuh hati. Dia-lah pengendali dan yang membolak balikkan hati, mudah bagi-Nya menjadikan seseorang (siswa) sukses, cerdas dan saleh. Maka itu, guru harus selalu dekat dengan-Nya, salah satunya melalui kekuatan doa.
Doa termasuk hal penting yang harus selalu dipegang teguh. Melalui doa, rasa cinta dan kasih sayang kepada siswa akan bertambah mekar dalam hati. Untuk itu, hendaklah guru senantiasa memohon kepada-Nya agar Dia meluruskan (hati) siswanya.
Guru sebagai orang tua bagi siswa. Nabi SAW melarang kepada orang tua (guru) mendoakan keburukan bagi siswa. Mendoakan keburukan merupakan hal berbahaya. Dapat mengakibatkan kehancuran siswa dan masa depannya (HR Abu Dawud).
Guru sebagai arsitek peradaban, jika ia salah dalam mendidik, berarti telah salah dalam membentuk peradaban. Ingat, tanggung jawab guru tidak sebatas di dunia, juga di akhirat kelak. Karenanya, guru harus selalu mendoakan untuk kesuksesan, kecerdasan, dan kesalehan bagi siswa pada setiap waktu.
Karena mulianya profesi guru, pantas jika disebut sebagai ahli waris para nabi. Namun, guru yang tidak mengamalkan dan mengajarkan ilmu sesuai tuntunan Rasulullah SAW bukan ahli waris para nabi (Fuad Asy-Syalhub dalam bukunya Guruku Muhammad SAW).
Semoga Allah membimbing para guru agar dapat mendidik siswa menjadi insan yang cerdas dan saleh, sehingga berhak mendapatkan pahala yang terus mengalir meski telah tiada. Jadi guru sebagai profesi mulia. Wallahu a’lam.***















































































































Discussion about this post