KAB. CIREBON, (FC).- Pasar yang belum terbentuk ditambah pandemi Covid-19 yang belum berakhir, membuat para pengrajin olahan kulit ikan pari di Blok Karang Bawang, RT/03 RW/04 Kelurahan Kemantren Kecamatan Sumber Kabupaten Cirebon kini sepi pembeli.
Ditemui Selasa (30/3) Ratina salah satu dari pengrajin kulit ikan pari menyebut, dimasa pandemi seperti ini orderan untuk membuat olahan, seperti dompet, tas, tali jam tangan jumlahnya menurun. Bahkan, stok barang di salah toko juga masih banyak.
“Ketika ditanya ke pemilik toko jawabannya boro-boro mau ada yang beli, pengunjungnya saja sepi karena pandemi Covid-19,”ceritanya kepada FC.
Ratina menambahkan ini berbeda dengan kondisi tahun sebelumnya, dimana pembeli di toko juga ada, yang datang untuk pesan langsung juga ada kepada kami pengrajin.
“Meski memang pasarnya belum luas karena memang terkendala modal, sehingga kami baru ditawarkan ke orang-orang terdekat saja, ini diluar yang disimpan di toko,” terangnya.
Ratina sendiri berharap kedepan pelatihan bagi pengrajin lebih ditingkatkan, sehingga bisa lebih kreatif baik secara desain maupun mengembangkan peluang pasarnya, karena memang olahan ini satu-satunya yang ada di Cirebon.
Ratina menceritakan pengrajin olahan kulit ikan pari yang ada di Blok Karang Bawang, RT/03 RW/ 04 Kelurahan Kemantren Kecamatan Sumber Kabupaten Cirebon ini, sudah ada sejak 2018.
Adanya pengepul ikan pari dinilai pemerintah Kabupaten Cirebon melalui Disperindag saat itu, sebagai peluang untuk memproduksi sendiri bukan hanya sekedar menjual bahan mentahnya ke daerah Yogyakarta.
“Kami ikuti pelatihan awalnya 10 orang kini tinggal 2 orang saja yang bertahan, kemudian ikut pameran di sejumlah hotel di Cirebon dan lainnya”
“Namun disayangkan pelatihan kulit ikan pari belum usai, kini fokus pada kerajinan kulit sapi, kami juga ikut pelatihan di daerah Garut kala itu, dan Alhamdulillah ilmunya kami dapat dan bisa memproduksinya”
Lebih lanjut Ratina menjelaskan karena terbatas peralatan, harga yang ditawarkan belum memenuhi harga pasaran.
“Kami belum memikirkan omset karena memang kami masih belajar, namun setidaknya pasar terbentuk dulu agar kami bisa memasarkan kerajinan ini di Cirebon, seperti yang sudah ada lebih dulu di Yogya,”pungkasnya. (Egi/Job/FC)














































































































Discussion about this post