KOTA CIREBON, (FC).- Sejumlah pedagang kaki lima yang menjual barang bekas masih tetap bertahan dimasa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Proporsional.
Mereka berjualan disepanjang Jalan Ariodinoto Kasepuhan, Lemahwungkuk, Kota Cirebon pada Senin (15/2).
Pedagang kaki lima seperti penjual barang bekas elektronik, handphone, minuman, pakaian, makan, siomay, pedagang kopi kelililing, tas pinggang, aksesoris topi, ikat kepala, dan lainnya.
Mereka masih berharap mendapatkan rejeki di tengah pandemi.
Otong Suhada salah seorang penjual jasa servis elektronik mengatakan, pandemi Covid-19 ini sedikit pengaruhnya. Hanya saja dirinya selalu mengingatkan pembeli, untuk tidak berkerumunan, menjaga jarak dan selalu memakai masker.
“Satpol PP, TNI, Polisi dan Satgas Covid-19 biasanya keliling dipagi hari sekitar Pukul 06.00 WIB, serta disore hari sekitar Pukul 16.00 WIB. Mereka hanya memastikan saja untuk selalu mengikuti protokol kesehatan,” jelasnya kepada FC.
Ditambahkannya, konsumen yang datang umumnya dari kalangan masyarakat umum dan mahasiswa. Otong yang belajar servis secara otodidak mengaku, dirinya juga menerima barang bekas elektronik. Yang diservisnya lagi kemudian dia jual kembali.
“Biasanya mahasiswa banyak yang jual beberapa barangnya, dan juga menservis barang elektroniknya seperti kipas angin, dispenser, dan sebagainya,” ucapnya.
Disebutkannya, pemasukan sehari-hari lebih didominasi oleh servis Rp100 ribu, dan penjualan barang bekas lainnya sekitar Rp80 ribu.
Sementara itu, Darsinah pedagang brang bekas lainnya menambahkan, selama PSBB Proporsional di Kota Cirebon memang tidak terdapat masalah, dirinya sudah puluhan tahun berdagang.
“Tidak masalah sih, karenakan kami sudah menerapkan protokol kesehatan sejak beberapa bulan terakhir, didepan sudah ada cuci tangan juga,” jelasnya.
Darsinah, yang menjual pakaian menuturkan, jika tidak berdagang karena dilarang pemerintah, maka dirinya kehilangan penghasilan dan kesulitan dalam hal ekonomi.
“Keadaan ekonomi kami sesudah adanya Covid-19, pendapatan kami berkurang drastis hingga 50%.” ucapnya.
Meski begitu, ia tetap berdagang walaupun PSBB Lokal diperpanjang hingga 22 Februari, dirinya kesulitan untuk mencari cara lain selain berjualan seperti itu.
“Kami berharap agar Covid-19 ini segera selesai, sektor ekonomipun kembali pulih dan anak-anak bisa bersekolah seperti biasanya,” pungkasnya. (Ridwan/magang)













































































































Discussion about this post