KAB. CIREBON, (FC).- Cirebon bebas sampah 70 persen tertangani dan 30 persen terkurangi pada 2024 mendatang. Ini masih menjadi Pekerjaan Rumah (PR) yang dihadapi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon di tahun 2020.
Kepala DLH Kabupaten Cirebon, Deni Nurcahya mengatakan, dalam mewujudkan slogan Cirebon Bebas Sampah 2024 tersebut pihaknya memiliki 2 program yang berkaitan yaitu jangka pendek dan menengah.
Untuk saat ini DLH melakukan program jangka pendek dengan memiliki 5 unit armada mobil dump truk pengangkut sampah liar yang melakukan mobile kurang lebih ke 160 titik di Kabupaten Cirebon.
Selain itu juga, memberikan fasilitas Tempat Pembuangan Sampah (TPS) 160 yang nantinya akan diangkut oleh ke 5 armada tadi secara bergilir.
Sedangkan, untuk jangka menengah terdapat pengelolaan berbasis desa. Artinya, sampah ini nantinya akan habis di hulu atau di desa.
“Jadi nanti didesa ini sudah dipisahkan dan dikelola. Sehingga, akan mengurangi pembuangan sampah menuju Tempat pembuangan Akhir (TPA) yang di Desa Kepuh, Palimanan,” kata Deni, Rabu (2/12).
Dalam melakukan pengelolaan berbasis desa juga terdapat sebuah metode yaitu 5M (Memilah, Menggunakan Kembali, Mengurangi, Mendaur Ulang, dan Mengomposkan) yang merupakan perkembangan dari 3M yang hanya memilah, mengurangi, dan mendaur.
Dari metode pada jangka menengah ini memang menurut Deni belum ada yang optimal. Karena, memang rencana pengembangan program jangka menegah ini akan dilaksanakan pada 2024 mendatang.
“Ya, untuk saat ini kita optimalkan jangka pendek dan baru nanti 2024 akan dioptimalkan untuk jangka menengah ini di tahun 2024 mendatang,” ujarnya kepada FC.
Tetapi, untuk saat ini terdapat beberapa desa yang sudah jalankan dengan baik konsep 5M ini diantaranya adalah Kemarang dan Setu Wetan.
“Bagus mereka, belum MoU tapi sudah jalan, dan kemarin kita sudah bahas dengan beberapa pihak desa bahwa mereka siap melaksanakan 5M secara optimal dengan bantuan apa saja teknologi dan cara yang dibutuhkan,” ungkap Deni.
Baginya, 5M ini cukup menguntungkan karena masyarakat menjadi lebih produktif, dan memiliki pemasukan ekonomi tambahan bagi rumah tangga maupun perorangan ataupun yang lainnya yang menjadi nilai plusnya.
“Ya dengan adanya 5M ini yang pasti adalah masyarakat punya pemasukan tambahan dan juga dana yang seharusnya masuk untuk pengangkutan pun jadi bisa dialihkan untuk yang lain,” ungkapnya.
Sedangkan, tujuan utamanya adalah sampah menjadi berkurang sekaligus dapat ditangani dengan baik.
“Karena memang, sesuai slogannya Cirebon bebas sampah 2024yaitu dengan presentase 30 persen terkurangi dan 70 persen tertangani,” ucap Deni.
Sementara itu, alasan saat ini msih belum optimalkan 5M sendiri kendala utama yang dialami DLH sendiri adalah sampah liar di jalan-jalan bukan merupakan TPS, yang memang terjadi di beberapa titik.
Oleh karenanya, tugas urgensi saat ini adalah pembersihan sampah liar yang berada di jalan-jalan ataupun diluar TPS, yang memang bagian dari Cirebon bebas sampah yaitu 30 persen terkurangi tadi.
Meski begitu, Deni sendiri yakin, utnuk program jangka panjang dengan metode 5M ini dapat segera dilaksanakan secara optimal dalam waktu dekat ini.
“Yakinlah bisa, apalagi sudah ada beberapa desa yang melakukan terlebih dahulu bahkan sebelum MoU. Kan bisa membantu desa lainnya juga,” pungkasnya. (Sarrah/Job/FC)










































































































Discussion about this post