KOTA CIREBON, (FC).- Saat ini jabatan Dewan Pengawas maupun Direksi BUMD di Kota Cirebon masih kosong. Pasalnya, Wali Kota Cirebon belum mengangkat pejabat definitif, untuk menduduki kursi di perusahaan plat merah milik Pemkot Cirebon tersebut.
Pada kondisi ini, Perumda Farmasi Cirebon mulai menyusun langkah strategis untuk mengembalikan kondisi perusahaan agar lebih sehat dan mampu berkembang.
Fokus utama saat ini bukan hanya menjaga operasional tetap berjalan, tetapi juga menyiapkan peta jalan (roadmap) penyehatan perusahaan yang ditargetkan mulai menunjukkan hasil dalam satu tahun ke depan.
Pelaksana Tugas (Plt) Dewan Pengawas Perumda Farmasi Ciremai, Agus Sukmanjaya mengatakan sejak mendapat amanah sebagai pengawas, dirinya bersama Plt Direktur langsung menyusun business plan jangka pendek sebagai fondasi kebangkitan perusahaan.
“Kami menyusun business plan untuk enam bulan ke depan dengan target dalam satu tahun kondisi perusahaan sudah jauh lebih sehat,” ujar Agus, Kamis (9/7).
Ia mengakui, tantangan yang dihadapi Perumda Farmasi saat ini tidak ringan. Sumber pendapatan perusahaan masih sangat terbatas, sementara sebagian besar unit usaha belum mampu memberikan kontribusi yang optimal.
Saat ini Perumda Farmasi Ciremai memiliki lima unit usaha, yakni Apotek Ciremai, klinik, laboratorium, Pedagang Besar Farmasi (PBF), dan Penyalur Alat Kesehatan (PAK). Namun, dari seluruh unit tersebut, hanya Apotek Ciremai yang masih menjadi penopang utama operasional perusahaan.
“Yang benar-benar kami dorong saat ini adalah apotek. Unit usaha lain masih berjalan, tetapi belum maksimal,” katanya.
Sebagai langkah awal, perusahaan akan melakukan pembenahan menyeluruh terhadap Apotek Ciremai. Pembaruan akan dilakukan mulai dari tampilan, peningkatan kualitas pelayanan hingga perluasan cakupan layanan kepada masyarakat.
Meski belum bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, Agus optimistis pembaruan tersebut dapat meningkatkan daya saing apotek sekaligus mendongkrak pendapatan perusahaan.
Sementara itu, layanan klinik tetap dipertahankan. Klinik masih melayani berbagai dokter spesialis, mulai dari dokter gigi, spesialis kulit, spesialis saraf hingga dokter umum. Namun, menurut Agus, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal.
Ke depan, manajemen akan melengkapi berbagai aspek perizinan serta memperkuat layanan kesehatan agar mampu menarik lebih banyak pasien. Salah satu peluang yang tengah dikaji adalah memperluas pelayanan bagi kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN).
“Klinik sebenarnya memiliki potensi besar. Tinggal bagaimana kita melengkapi perizinan dan mengoptimalkan pelayanan agar lebih diminati masyarakat,” jelasnya.
Di sisi lain, dua unit usaha yang saat ini berhenti beroperasi, yakni PBF dan PAK, juga menjadi perhatian. Kedua unit tersebut tidak dapat berjalan karena izin operasionalnya telah habis masa berlaku.
Perusahaan menargetkan proses perpanjangan izin dapat segera diselesaikan sehingga kedua lini bisnis tersebut bisa kembali beroperasi dan memberikan kontribusi terhadap pendapatan perusahaan.
Agus menambahkan, roadmap penyehatan perusahaan telah disusun bersama tenaga konsultan sebagai acuan bagi direksi definitif yang nantinya terpilih. Dewan pengawas, kata dia, akan mengawal implementasi program tersebut agar berjalan sesuai target.
“Roadmap sudah kami siapkan bersama konsultan. Nanti pelaksana utamanya adalah direksi definitif, sementara kami akan mengawal agar program ini bisa berjalan sesuai rencana,” ujarnya.
Selain pembenahan unit usaha, peningkatan kualitas sumber daya manusia juga menjadi bagian penting dalam strategi penyehatan perusahaan. Menurut Agus, kompetensi pegawai harus terus ditingkatkan agar mampu mendukung transformasi bisnis yang sedang disiapkan.
“Muara dari seluruh roadmap ini adalah kualitas SDM. Karena itu peningkatan kompetensi pegawai menjadi salah satu fokus utama kami,” katanya.
Sebagai informasi, hingga kini Perumda Farmasi Ciremai masih menghadapi tantangan finansial. Bahkan sepanjang tahun 2025 perusahaan belum mampu memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Karena itu, proses seleksi direksi dan dewan pengawas definitif diharapkan menjadi momentum baru untuk mempercepat transformasi sekaligus mengembalikan kinerja BUMD tersebut. (Agus)












































































































Discussion about this post