KOTA CIREBON, (FC).- Tingginya tingkat kepatuhan para wajib retribusi serta lancarnya aktivitas operasional nelayan menjadi faktor utama yang mendorong optimisme Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPPP) Kota Cirebon dalam mencapai target pendapatan retribusi jasa usaha di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kejawanan tahun 2026.
Kepala DKPPP Kota Cirebon, Elmi Masruroh mengatakan hingga pertengahan tahun 2026, realisasi penerimaan retribusi di TPI Kejawanan telah mencapai sekitar Rp663,5 juta atau 43,36 persen dari target yang ditetapkan sebesar Rp1,53 miliar.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan tren positif dan menjadi indikator bahwa target penerimaan retribusi tahun ini berada di jalur yang tepat.
“Alhamdulillah realisasinya cukup baik. Kami optimistis target retribusi yang telah ditetapkan dapat tercapai, bahkan berpotensi melampaui target,” ujar Elmi, Sabtu (20/6).
Elmi menjelaskan, salah satu faktor yang mendukung capaian tersebut adalah kesadaran para pelaku usaha dan nelayan yang menjadi wajib retribusi untuk memenuhi kewajibannya secara tertib dan tepat waktu.
Hingga saat ini, kata Elmi, DKPPP tidak menemukan kendala berarti dalam proses pembayaran retribusi hasil pelelangan ikan yang berlangsung di TPI Kejawanan.
“Wajib retribusi sejauh ini membayar sesuai ketentuan dan tepat waktu. Jadi tidak ada hambatan yang signifikan dalam proses penerimaan retribusi,” katanya.
Selain ditopang kepatuhan wajib retribusi, kondisi operasional sektor perikanan di kawasan Kejawanan juga dinilai semakin kondusif. Salah satunya ditandai dengan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) yang kini sudah tidak lagi menjadi persoalan bagi para nelayan.
Menurut Elmi, kelancaran pasokan BBM memberikan dampak positif terhadap aktivitas penangkapan ikan, sehingga kapal-kapal nelayan dapat beroperasi secara optimal dari Pelabuhan Perikanan Kejawanan.
Ia menjelaskan, pemerintah telah menyediakan kuota BBM bersubsidi bagi kapal nelayan dengan alokasi sebanyak 20 kiloliter untuk setiap perjalanan melaut.
“Untuk BBM saat ini sudah tidak ada kendala. Nelayan mendapatkan kuota 20 kiloliter untuk setiap kali keberangkatan melaut, sehingga aktivitas penangkapan ikan dapat berjalan dengan baik,” jelasnya. (Agus)













































































































Discussion about this post