KUNINGAN, (FC).- Ratusan mahasiswa dari berbagai organisasi ekstra kampus menggelar aksi demonstrasi di Gedung DPRD Kabupaten Kuningan, Rabu (17/6).
Dalam aksi tersebut, mereka mendesak pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang dinilai berpotensi menimbulkan berbagai persoalan dalam pelaksanaannya.
Massa aksi yang terdiri dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) memadati ruang rapat paripurna DPRD hingga area balkon.
Berbagai spanduk berisi kritik terhadap kebijakan pemerintah dibentangkan, sementara orasi bergantian disampaikan oleh para perwakilan organisasi.
Koordinator aksi, Ihab Sihabudin, menilai Program Makan Bergizi Gratis belum memiliki parameter keberhasilan yang jelas dan terukur. Menurutnya, pemerintah harus mampu menunjukkan dampak nyata program tersebut terhadap perbaikan status gizi anak.
“Harus ada indikator yang jelas. Bagaimana kondisi gizi anak sebelum program berjalan dan bagaimana setelah program dilaksanakan. Jika tidak ada ukuran yang terukur, masyarakat sulit menilai keberhasilannya,” tegas Ihab.
Ia menambahkan, evaluasi program semestinya melibatkan instansi kesehatan agar hasil yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan objektif.
Selain mengkritisi MBG, mahasiswa juga menyoroti fungsi pengawasan DPRD terhadap berbagai program pemerintah. Mereka mengingatkan agar lembaga legislatif tetap menjaga independensinya sebagai representasi masyarakat.
“Ketika legislatif ikut terlibat dalam pengelolaan program, maka fungsi kontrol harus tetap dijaga. Pengawasan tidak boleh hilang karena menyangkut kepentingan publik,” ujarnya.
Suasana aksi sempat memanas saat sejumlah orator menyampaikan kritik keras terhadap lembaga perwakilan rakyat. Namun demikian, demonstrasi tetap berlangsung tertib di bawah pengamanan aparat kepolisian.
Mahasiswa PMII turut menyoroti sejumlah persoalan yang muncul dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di berbagai daerah.
Mereka meminta pemerintah meningkatkan transparansi pengelolaan program sekaligus memastikan seluruh dapur penyedia makanan memenuhi standar keamanan pangan.
“Kami meminta seluruh proses pelaksanaan program dibuka secara transparan dan diawasi secara ketat agar tidak menimbulkan persoalan baru,” ujar salah seorang orator.
Sementara itu, mahasiswa GMNI menyoroti keberadaan Koperasi Desa Merah Putih yang dinilai membutuhkan pengawasan ekstra agar tidak membuka peluang penyalahgunaan kewenangan maupun anggaran.
“Program ini harus diawasi secara serius agar tidak menjadi celah munculnya persoalan hukum maupun penyimpangan pengelolaan dana,” kata orator lainnya.
Selain dua program tersebut, mahasiswa juga mengangkat berbagai isu nasional seperti kerusakan lingkungan, inflasi, harga bahan bakar minyak, perlindungan UMKM, penggunaan dana desa, hingga reformasi institusi kepolisian.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyerahkan 24 poin tuntutan kepada DPRD Kabupaten Kuningan.
Beberapa tuntutan utama di antaranya mendesak audit pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis, evaluasi penggunaan dana desa untuk KDMP, transparansi realisasi anggaran hasil efisiensi Inpres Nomor 1 Tahun 2025, hingga percepatan pengesahan Undang-Undang Perampasan Aset.
Mereka juga meminta pemerintah menghentikan sementara operasional dapur MBG yang belum memenuhi standar keamanan pangan serta melakukan audit menyeluruh terhadap proses pengadaan dan distribusi program tersebut.
Setelah berlangsung selama beberapa jam, massa aksi menyerahkan dokumen tuntutan kepada pimpinan DPRD Kabupaten Kuningan untuk diteruskan kepada Presiden RI Prabowo Subianto dan DPR RI.
Mahasiswa menegaskan akan terus mengawal berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai berdampak langsung terhadap masyarakat.
Mereka bahkan mengancam kembali menggelar aksi dengan jumlah massa lebih besar apabila tuntutan tersebut tidak mendapat respons.
“Jika aspirasi ini tidak ditindaklanjuti, kami siap kembali turun ke jalan dengan kekuatan yang lebih besar,” tegas salah seorang peserta aksi sebelum membubarkan diri. (Angga)












































































































Discussion about this post