KOTA CIREBON, (FC).- Masjid Lautze 3 Cirebon menggelar kegiatan silaturahmi dan ngobrol bareng seputar kemualafan di wilayah Cirebon Raya. Kegiatan tersebut berlangsung di Galeri Gramedia Grage Mall Cirebon, Kamis (14/5).
Acara ini menghadirkan sejumlah tokoh, di antaranya pembina Yayasan H. Karim Oei sekaligus pendiri Masjid Lautze Jakarta, H. M. Ali Karim Oei, pengusaha sekaligus pendiri Masjid Lautze 2 Bandung, Abah Oting Hambali, serta Wilda Siahaan yang merupakan mantan guru sekolah minggu.
Ketua pelaksana kegiatan, Patrice Setiawaty, S.I.P, mengatakan kegiatan tersebut menjadi wadah silaturahmi bagi para mualaf di Cirebon Raya yang selama ini belum terkoordinasi dengan baik.
Menurutnya, berdasarkan data yang dihimpun, jumlah mualaf di wilayah Cirebon Raya mencapai sekitar 200 orang. Namun, sebagian besar belum memiliki komunitas maupun wadah pemberdayaan yang mampu membantu mereka menghadapi berbagai tantangan kehidupan setelah memeluk Islam.
“Banyak mualaf menghadapi tantangan, terutama dari sisi ekonomi. Kebanyakan juga berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Karena itu kami ingin mempertemukan mereka dengan para pengusaha mualaf dan berbagai mitra agar bisa saling memotivasi,” ujar Patrice yang akrab disapa Ipet.
Ia menjelaskan, Masjid Lautze 3 Cirebon juga berupaya menjalin kolaborasi dengan sejumlah lembaga dan organisasi sosial seperti Dompet Dhuafa, Baznas, hingga Zakat Center untuk membantu para mualaf mendapatkan akses pembinaan, pelatihan, maupun pemberdayaan ekonomi.
Selain persoalan ekonomi, Ipet mengungkapkan tidak sedikit mualaf yang menghadapi tekanan sosial setelah berpindah keyakinan. Bahkan ada yang dikucilkan keluarga hingga kehilangan hak warisan.
“Menjadi mualaf itu bukan hal mudah. Ada yang langsung dicoret dari kartu keluarga, ada yang dikeluarkan dari warisan keluarga. Karena itu kami ingin mereka punya tempat untuk saling menguatkan,” katanya.
Ia berharap Masjid Lautze 3 dapat menjadi salah satu fasilitator dalam membangun mualaf yang mandiri dan berdaya, baik secara spiritual maupun ekonomi.
Sementara itu, Abah Oting Hambali menyampaikan kegiatan tersebut bukan hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang berbagi pengalaman suka dan duka sebagai seorang mualaf.
Dalam kesempatan itu, ia juga memberikan motivasi mengenai makna kesuksesan yang tidak hanya diukur dari materi, tetapi juga ketenangan batin.
“Kesuksesan lahir itu mencari rezeki, sedangkan kesuksesan batin adalah berjalan di jalan Islam,” ujar Abah Oting.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus digelar secara berkelanjutan di Cirebon karena silaturahmi dinilai mampu mempererat persaudaraan sekaligus membuka pintu rezeki.
Abah Oting juga menegaskan keberadaan Masjid Lautze dengan konsep arsitektur Chinese style bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai sarana membantu masyarakat menemukan jalan kebaikan dan memperkuat nilai toleransi.
“Persoalan umat itu bukan Cina dengan Cina, Sunda dengan Sunda, atau Jawa dengan Jawa. Tuhan menciptakan kita berbeda-beda supaya saling mengenal dan saling membantu,” tuturnya.
Ia pun mengajak masyarakat untuk terus menjaga keberagaman dan toleransi antarumat beragama demi terciptanya kehidupan yang harmonis di tengah masyarakat. (Agus)















































































































Discussion about this post