KOTA CIREBON, (FC).- Seperti tahun-tahun sebelumnya, Kampung Arab Panjunan, Kota Cirebon, kembali menghadirkan Bubur Harisah sebagai sajian khas Ramadan.
Bubur yang sudah turun temurun selama 3 generasi ini berbahan daging kambing dan rempah Timur Tengah, dan dibagikan gratis kepada masyarakat sebagai menu berbuka puasa pada Minggu (22/2/2026).
Bubur harisah telah menjadi tradisi keluarga keturunan Syech Mohammad Islam Bayasut sejak diperkenalkan pada 1918. Awalnya dibuat untuk para musafir yang singgah di Cirebon selama Ramadan, kini bubur ini dinikmati masyarakat luas saat berbuka puasa.
Secara tampilan, bubur harisah berwarna coklat dengan tekstur lembut. Rempah khas Timur Tengah seperti kayu manis, cengkeh, kapulaga, dan lainnya berpadu dengan daging kambing untuk menghasilkan cita rasa yang khas.
Menjelang berbuka, bubur dikemas dan dibagikan kepada jamaah masjid serta warga sekitar secara cuma-cuma.
Fatimah Bayasut (67), salah satu pembuat bubur, mengatakan tradisi ini diwariskan turun-temurun hingga generasi ketiga.
“Bubur harisah berbeda dari bubur biasa karena menggunakan racikan rempah khas Timur Tengah, mulai dari kayu manis, cengkeh, kapulaga, dan lainnya. Tradisi ini hanya ada saat Ramadan dan terus kami pertahankan,” ujarnya.
Rempah-rempah yang digunakan antara lain kayu manis, cengkeh, kapulaga, jintan putih, lada dan ketumbar. “Bisa kayu manis, cengkeh, kapulaga, jintan putih, lada, ketumbar,” katanya, merinci.
Tak hanya soal bumbu, proses memasaknya pun membutuhkan waktu panjang. Sejak pagi hari, bubur dimasak dengan santan dan daging kambing agar cita rasanya semakin kuat.
“Oh iya ada, dari mulai pagi kan dikasih daging kambing juga,” ujarnya.
Ia meneruskan tradisi tersebut bersama sang kakak, Abdullah bin Muhammad bin Sahil. “Tiga (generasi). Iya, sama Pak Abdullah Bin Muhammad Bin Sahil,” jelas dia.
Tradisi bubur harisah ini pertama kali dirintis oleh Syech Mohammad Islam Bayasut dan terus bertahan hingga kini.
Setiap hari selama Ramadan, produksi dimulai sekitar pukul 10.00 WIB. Sore harinya, sebanyak 100 porsi bubur harisah dibagikan.
Pembagian dilakukan ke masjid-masjid di wilayah Kampung Arab serta kepada warga yang membutuhkan. “Tradisi itu berlangsung selama satu bulan penuh,” ujarnya.
Untuk diketahui juga, seluruh biaya produksi berasal dari dana yayasan keluarga tanpa mengandalkan sumbangan luar. “Dari dana sini semua, yayasan keluarga sendiri,” ucap Fatimah. (Agus)












































































































Discussion about this post