MAJALENGKA, (FC).- Tim Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Majalengka melakukan pemeriksaan tes Polymerase Chain Reaction (PCR) terhadap empat orang anggota keluarga sopir bus yang terkonfirmasi positif Covid-19. Mereka melakukan kontak erat dengan pasien yang saat ini tengah dirawat di RSUD Majalengka.
Juru Bicara Covid-19 Kabupaten Majalengka, H. Alimudin menuturkan, pemeriksaan tersebut sebenarnya diperuntukkan bagi lima orang yang memiliki kontak erat dengan pasien Covid nomor tujuh ini.
Adapun mereka yang diperiksa, sambung dia, terdiri dari isteri dan kedua anaknya, saudaranya, serta kondektur bus yang selama ini bekerja dengan pasien.
“Pemeriksaan sendiri dilakukan di Desa Sadomas, Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka. Sementara kondekturnya tidak hadir dengan alasan yang tidak jelas, padahal ia sudah kami undang. Untuk tempat tinggalnya, kondektur ini tinggal di Kecamatan Rajagaluh juga,” ujar Ali melalui siaran pers yang diterima wartawan FC, Rabu (3/6).
Dikatakan Ali, Jumlah ini kemungkinan bisa bertambah jika memang hasil tracing dan tracking ditemukan fakta baru. Tapi hasil ini masih menunggu laporan dari pihak desa setempat dan muspika di Kecamatan Rajagaluh.
“Sesuai dengan protap, kalau yang memiliki kontak erat dengan pasien positif Covid-19 itu harus menggunakan metode tes PCR. Tidak lagi tes rapid diagnostic test (RDT), supaya hasilnya cepat terdeteksi dan tidak menimbulkan polemik di kemudian hari,” ujarnya.
Menurut dia, setelah timnya melakukan pemeriksaan spesimen terhadap mereka, hasil tes PCR ini akan dibawa ke Laboratorium Covid-19 Fakultas Kedokteran Universitas Gunung Jati Cirebon.
“Terkait hasilnya, itu baru bisa diketahui sekitar 2 sampai 3 hari mendatang,” imbuhnya.
Sementara itu, Bupati Majalengka, H. Karna Sobahi, meminta agar seluruh Desa Sadomas melakukan karantina mandiri atau (lockdown).
Menurutnya, imbauan itu dilakukan mengingat dari hasil tracing dan tracking pasien Covid-7 Majalengka itu pernah melakukan kontak fisik selama melakukan karantina mandiri dengan berbagai masyarakat.
“Saya meminta agar masyarakat Sadomas melakukan lockdown selama 14 hari, mengingat riwayat perjalanan sopir itu sempat berbaur dengan banyak orang seperti shalat taraweh, Lebaran dan interaksi lainnya. Meski sopir sendiri secara fisik dalam keadaan baik,” kata Karna dalam jumpa pers bersama para awak media, di halaman kantor Bupati setempat.
Masih dikatakan dia, alasan lain mengapa pihaknya meminta agar dilakukan lockdown lokal, karena hawatir terjadi transmisi lokal penyebaran Covid-19 di Majalengka semakin meluas.
Jika diperlukan, sambung dia, pihaknya siap memberikan subsidi berupa bantuan makanan bagi masyarakat desa setempat.
“Saya sendiri belum mengetahui dari mana penularan itu secara pastinya, tapi besar kemungkinan akibat imported case,” katanya. (Ibin/FC)
















































































































Discussion about this post