KAB. CIREBON, (FC).- Desa Hulubanteng, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Cirebon merupakan wilayah yang subur dan tidak kekurangan air, namun Pemdes setempat malah menerima program Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) membuat masyarakat mendatangi balai desa setempat, Senin (5/9). Kedatangan puluhan masyarakat itu adalah untuk menolak program tersebut yang dinilai sebagai program yang akan menguras anggaran desa.
Perwakilan dari masyarakat, Junaedi mengungkapkan, program Pamsimas di Desa Hulubanteng merupakan program yang tidak tepat sasaran, karena selama ini wilayah Desa Hulubanteng belum kekurangan air meskipun disaat musim kemarau, air dari sumur warga masih melimpah.
Sementara program Pamsimas yang direncanakan diberikan gratis dari semula 90 sambungan rumah warga menjadi 150 rumah, menuai persoalan kecemburuan sosial di mana jumlah rumah warga lebih dari 1.000 rumah, dan ke depan bila memang program tersebut dipaksakan berlanjut maka akan menjadi beban APBDes untuk biaya operasionalnya.
“Program Pamsimas di Desa Hulubanteng ini tidak tepat sasaran, di sini air masih berlimpah, kalau dipaksanakan maka akan menjadi beban APBDes dan juga menuai kecemburuan sosial, karena hanya 150 rumah yang mendapat sambungan pamsimas,” jelasnya.
Selain itu menurut Junaedi, bahwa program Pamsimas tidak melalui proses perencanaan yang matang, karena tanpa ada sosialisasi kepada masyarakat penting tidaknya program tersebut dan manfaat yang akan dirasakan dari program itu, tiba-tiba sudah ada kegiatan pembangunan Pamsimas, padahal dari sisi lahan yang akan digunakan juga masih menuai kontroversi kepemilikan lahannya, warga berharap agar program Pamsimas lebih baik dialihkan ke desa lain yang lebih membutuhkan.
“Jangan sampai program ini terkesan memaksakan kehendak, apalagi proses awalnyanya sudah tidak benar dengan belum adanya sosialisasi kepada masyarakat,” terangnya.
Senada juga disampaikan Eko Andri. Menurutnya Desa Hulubanteng harus berkaca kepada desa tetangga yang mendapatkan program Pamsimas, beberapa diantaranya kini tower Pamsimas hanya menjadi benda mati tak berfungsi, program Pamsimas yang ditempatkan di wilayah desa yang tidak kekurangan air maka akan menjadi sia-sia, dirinya mencontohkan di desa tetangga ternyata hanya berjalan beberapa bulan kemudian berhenti, ada juga yang hanya memiliki sambungan 10 rumah sehingga menjadi beban APBDes.
“Program Pamsimas itu bagus, kalau untuk desa atau wilayah yang tepat sasaran, kalau ke desa yang masih mudah mendapatkan air maka akan menjadi sia-sia, lebih baik Desa Hulubanteng tidak usah menerima program ini, bukan program wajib ini, daripada akan menjadi beban,” ucapnya.
Sementara Petugas Pendamping Fasilitator masyarakat program Pamsimas Desa Hulubanteng, Ina Nurjana mengungkapkan, secara garis besar yang diterima banyak sebagian besar warga belum memahami betul apa itu program Pamsimas, beberapa warga diantaranya beralasan khawatir air yang tersedot Pamsimas bisa mengganggu sumur warga sekitar.
Diakuinya bahwa karena sebagian besar warga yang datang mempertanyakan merupakan warga dari luar dusun intervensi, sehingga mereka belum memahami maksud program Pamsimas tersebut, padahal pihaknya sudah beberapa kali melakukan sosialisasi kepada masyarakat dusun intervensi atau wilayah yang menjadi sasaran program Pamsimas.
Dijelaskannya, bahwa penunjukkan Desa Hulubanteng menjadi desa sasaran program Pamsimas bukan serta merta asal tunjuk, namun telah dilakukan kajian sebelum program tersebut digulirkan.
Dari hasil penelitian sample beberapa air sumur warga dari sisi kuantitas memang tidak kurang, namun hampir sebagian besar berdasarkan hasil uji laboratorium banyak mengandung bakteri, sehingga Desa Hulubanteng layak mendapatkan program Pamsimas tersebut.
“Kalau kita hanya sebagai fasilitator masyarakat, hanya menyampaikan program melalui sosialisasi, kalau langkah ke depannya seperti apa, kewenangannya semua dikembalikan kepada kuwu,” terangnya.
Sementara Kuwu Hulubanteng, Tiryo menjelaskan, dirinya yang baru menjabat kuwu sekitar 8 bulan tersebut mengakui jika program Pamsimas yang menjadikan Desa Hulubanteng menjadi desa sasaran program. Sebagai desa terpilih program pihaknya bagaimana sebaik mungkin program bisa terlaksana dengan baik agar ke depan juga mendapat kepercayaan program-program lainnya yang bersumber baik pemerintah pusat maupun provinsi.
Dikatakan Tiryo, terkait dugaan warga belum ada sosialisasi dirinya membantah, karena proses dari awal melalui musdes bersama lembaga dan tokoh masyarakat sudah dilakukan dan dilanjutkan sosialisasi rencana program kepada warga calon penerima bantuan sambungan Pamsimas, akan tetapi dengan adanya tuntutan masyarakat pihaknya kooperatif dan akan melakukan sosialisasi ulang.
“Kalau kebutuhan air di Desa Hulubanteng secara kuantitas kekurangan air belum, tapi berdasarkan hasil laboratorium, meski kami bukan ahlinya menyatakan banyak mengandung bakteri, sehingga kebutuhan air bersih di Desa Hulubanteng memang dibutuhkan,” jelasnya. (Nawawi)














































































































Discussion about this post