KUNINGAN, (FC).- Sebanyak 42 Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis dari Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) Cirebon mengunjungi toko oleh-oleh khas Kuningan bernama Kharisma Simanis Madu.
Kunjungan ini bertujuan untuk melakukan observasi pada toko oleh-oleh Kharisma yang berlokasi di Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan tersebut.
42 Mahasiswa tersebut yaitu Pritha Dhiandra Nastiti, Ayu Fatmawati, Suci Fitriyani, Kharisma Putri Amelia, Aini Fitriah, Mohammad Rosid Alfiyan, Afwa Afiah, Farkhana, Wawan Iir Sucipto, Rizki Purnama Putra, Rendi Supiandi, Nur Afni Yulianti, Rakhma Sari, Yuliawati, Rengganis Kusmawati,
Kemudian Rivani, Lady Deviyada Sari, Nurul Aulia Dewi, Uli Aznikhah, Moh. Alifudin, Neng Intan Nurcahyati, Siti Amelia, Fawwaz Abu Bakar, Adis Rizki Pratama, Taufik Hadikusumah, Dede Ayu Anisah, Taufik Hidayat, Alan Julian Duta Pamungkas, Anggal Noor Ramdhan.
Lalu Nadi Rama, Abdul Aziz Amirullah, Wiwin Indri Astuti, Sri Riyanti, Citra Dwinata, Annisa Sekar Ningrum, Rezka Hadi Prayoga, Pina Rahdeana, Laura Natasha Delilah, Nilla Agustin Rahayu, Zahra Rossalina, Maria Ulpah, Yanuar Firman. Kunjungan mereka didampingi oleh Dosen Pembimbing, Dr. Editya Nurdiana, SE., M.M.
Kunjungan rombongan Mahasiswa UGJ Cirebon disambut oleh owner dari toko oleh-oleh Kharisma Simanis Madu, Endes Desti.
Observasi ini dilakukan berdasarkan tugas mata kuliah Perpajakan.
Observasi yang dilakukan menggunakan Teknik pengumpulan data berupa wawancara pada toko oleh-oleh Kharisma Simanis Madu yang berlokasi di Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan.
Tape ketan merupakan salah satu makanan khas yang menjadi kebanggaan Kuningan, Jawa Barat.
Makanan tradisional ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya dan kehidupan masyarakat setempat selama bertahun-tahun.
Proses pembuatan tape ketan melibatkan fermentasi beras ketan pilihan menggunakan ragi, menghasilkan cita rasa unik yang manis dan sedikit asam.
Pada masa lalu, pembuatan tape ketan masih mengandalkan metode tradisional. Beras ketan dicuci secara manual dan diolah dengan penuh kesabaran.
Namun, seiring perkembangan zaman, teknologi mulai diintegrasikan dalam proses produksi.
Salah satu contohnya adalah penggunaan mesin molen untuk mencuci beras, yang memungkinkan proses yang lebih efisien dan higienis.
Meskipun ada perubahan dalam metode produksi, esensi dan keaslian tape ketan Kuningan tetap terjaga.
Makanan ini masih menjadi hidangan wajib dalam berbagai acara dan perayaan, mencerminkan pentingnya tape dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Kuningan.
Untuk memastikan kebersihan dan rasa tape yang baik, proses pengolahan harus dilakukan dengan hati-hati dan tidak menggunakan parfum atau wewangian.
Dulu, bungkus tape menggunakan berbagai jenis daun, seperti daun sulangkar, daun kopi, daun pisang, dan daun mangga.
Namun, setelah diuji coba, daun jambu terbukti paling efektif dan efisien.
Daun jambu memiliki aroma yang khas, yang membuat tape Kuningan memiliki ciri khas yang unik.
Untuk mempercantik kemasan, kita menggunakan ember, box, dan toples berwarna agar lebih mudah dibawa.
Di tengah warisan kuliner yang kaya ini, lahirlah “Tape Ketan Kharisma Si Manis Madu”, sebuah brand yang menggabungkan tradisi dengan inovasi.
Pemilik usaha ini, yang merupakan anak pertama dari keluarga produsen tape ketan terkenal “Sari Wangi”, memutuskan untuk membangun identitas bisnisnya sendiri.
Pemilihan nama “Kharisma” bukan tanpa alasan. Nama ini mencerminkan aspirasi pemilik untuk menciptakan usaha yang bersinar, sukses, dan terus berkembang.
Dengan menambahkan frasa “Si Manis Madu”, brand ini menegaskan kualitas produknya yang manis dan lezat, sekaligus memberikan sentuhan personal pada mereknya.
Keputusan untuk menciptakan brand sendiri, alih-alih melanjutkan usaha
orang tua dengan nama yang sama, menunjukkan semangat kewirausahaan dan keinginan untuk berinovasi.
Hal ini juga mencerminkan rasa tanggung jawab terhadap adik-adiknya, memberikan mereka ruang untuk nantinya juga mengembangkan usaha mereka sendiri.
Tape Ketan Kharisma tidak hanya berfokus pada produk tape tradisional.
Mereka menawarkan berbagai varian, termasuk tape ketan hijau dan tape ketan hitam yang menjadi best seller.
Selain itu, bisnis ini juga memperluas lini produknya dengan menjual aneka cemilan dari berbagai daerah, souvenir, dan pakaian.
Strategi pemasaran Tape Ketan Kharisma menggabungkan pendekatan tradisional dan modern.
Mereka memiliki toko fisik di beberapa lokasi strategis seperti Bandorasa, Panawuan, dan Brebes.
Namun, mereka juga memanfaatkan platform e-commerce dan media sosial seperti Shopee, TikTok, dan Instagram untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Dengan kisaran harga yang bervariasi, mulai dari Rp20.000 hingga Rp100.000 untuk produk tape, dan Rp10.000 hingga Rp500.000 untuk produk lainnya, Tape Ketan Kharisma menyasar target pasar yang luas, mencakup wisatawan berusia 10 hingga 60 tahun.
Puncak penjualan biasanya terjadi pada hari libur nasional serta akhir pekan, menunjukkan bahwa produk ini sangat populer di kalangan wisatawan dan masyarakat yang sedang berlibur.
Tape Ketan Kharisma membuktikan komitmennya terhadap kualitas dan kepatuhan hukum dengan memiliki berbagai izin dan sertifikasi.
Usaha ini telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), sertifikasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sertifikasi Halal, serta Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT).
Sebagai wajib pajak yang terdaftar, pemilik usaha ini juga aktif mengikuti sosialisasi dan pelatihan tentang perpajakan untuk UMKM.
Mereka juga memanfaatkan fasilitas dan insentif pajak yang disediakan pemerintah, salah satunya berupa bantuan mesin molen untuk mencuci beras.
Tape Ketan Kharisma menunjukkan profesionalisme dalam pengelolaan keuangan usaha.
Mereka memisahkan rekening pribadi dan rekening usaha, sebuah praktek yang sangat penting untuk transparansi dan akuntabilitas keuangan.
Selain itu, mereka juga melakukan pembukuan dan pencatatan keuangan secara rutin, baik secara manual maupun digital.
Meskipun tidak menggunakan jasa konsultan pajak, pemilik usaha ini mengelola aspek perpajakan secara mandiri, menunjukkan pemahaman yang baik tentang kewajiban pajak UMKM.
Kesimpulan
Tape Ketan Kharisma Si Manis Madu adalah contoh sempurna bagaimana sebuah usaha dapat menggabungkan tradisi kuliner dengan inovasi modern.
Dengan tetap mempertahankan keaslian resep dan proses pembuatan tape ketan, mereka berhasil mengembangkan brand yang kuat dan dikenal luas.
Komitmen mereka terhadap kualitas, kepatuhan hukum, dan manajemen keuangan yang baik menjadikan Tape Ketan Kharisma sebagai model UMKM yang patut dicontoh.
Dengan terus berinovasi dan beradaptasi dengan tren pasar, tidak diragukan lagi bahwa Tape Ketan Kharisma akan terus berkembang dan menjadi salah satu ikon kuliner Kuningan yang dikenal luas di seluruh Indonesia. (rls/FC)












































































































Discussion about this post