Sanggar musik yang berdiri sejak 2005 ini kebanyakan miliki anggota penabuh kendang dari kalangan anak SD kelas 3 hingga SMP. Setiap hari jum’at pun sanggar menerjunkan langsung sebagian dari anak untuk unjuk diri.
Sementara itu, Ketua Sanggar Tari Cakrabaskara Bagus Erlangga mengatakan, kerjasama dilakukan dengan sanggar musik Griya super kerap dilakukan selain untuk ditampilkan pada acara ini terinspirasi dari tarian ronggeng bugis.
“Akhirnya jadi satulah bekerja sama, dan dibuatlah kreasi baru yang disukai masyarakat yang asalnya terinspirasi dari ronggeng bugis yang juga merupakan tarian kreasi milik orang, dan karena alasan itulah tercipta tarian baru dengan nama ronggeng geol dengan oenarinya bapak-bapak” ungkap Bagus pada FC.
Selain itu, lanjut Bagus, mereka tidak hanya memiliki anggota dari kalangan usia dewasa, melainkan anak-anak perempuan dan laki-laki kelas 3 SD. Padahal kolaborasi bersama Griya Super ni pun penari ronggengnya berasal dari kalangan bapak-bapak.
“Karena, saya berharap agar orang lain itu berfikir jika laki-laki bisa menari tapi bukan waria,” tandasnya mengenai alasan dipilihnya bapak-bapak.
Baik Bagus dan Teja, sebagai seniman Gegesik menanamkan pada anggotanya untuk mencintai dan terus dapat mengembangkan seni tradisional dan mempertahankannya. (Sarrah/Job/FC)










































































































Discussion about this post